Komentar Karib Tusuk Gigi
Celoteh Benak : PARA PEREMPUAN
Friday, June 04, 2004



Pagi tadi, tanpa sadar mataku seperti bergetah. Terngiang kata ibuku di masa kecil, pantang bagi anak lelaki untuk mengisak tangis. Tapi pagi tadi, aku begitu terharu dan merasa miris.  Betapa gaduh dan sumbangnya orkestrasi politik Indonesia yang semakin menjadi-jadi. Bahkan kali ini, tidak lagi dengan isu genderisasi yang sudah basi, namun dengan alasan bingkai religi yang menyatakan bahwa perempuan dipantangkan memimpin negeri!
Oh Gusti… tak terkira malangnya makhluk ciptaanMu yang bernama ‘perempuan’.. sejak pertama Kau cipta, mendapat ujian untuk memberi godaan, selalu merasakan pedih di setiap bulan, menyabung hidup dan mati saat melahirkan, dan terbelenggu dalam kodrat untuk selalu menerima kekalahan. Menerima kekalahan? Mengalah? tidak tampak jauh berbeda.

 

Duh, tidakkah para pelontar aturan tadi menyadari bahwa mereka juga terlahir dari rahim seorang perempuan?

 

Adakah yang salah ketika seorang perempuan menjadi supir bus, supir taksi, petugas SPBU, petugas loket jalan tol, bartender, fotografer, sutradara, dan beragam pekerjaan laki-laki lainnya? Apakah karena perempuan dikodratkan sebagai makhuk yang lemah, sehingga mereka hanya dianggap pantas berkutat dengan pekerjaan dan kegiatan yang sedikit tantangan?

Salahkah bila sebagian dari mereka memilih untuk menjadi bagian atau bahkan pemimpin dari sistem pemerintahan dan kenegaraan?

 

Siang tadi aku bercengkerama dengan ketiga anak temanku, di meja makan, rumah mereka.  Putri tertua bertanya, mengapa lebah dan semut dipimpin oleh seorang ratu, dan bukannya raja? Hanya dengan senyum aku menjawabnya. Lantas putra kedua malah berkisah tentang ketua kelasnya, seorang anak perempuan yang judes dan galak; aku pun cuma tersenyum menanggapinya.  Pada putra ketiganya yang selalu bernyanyi ‘cicak-cicak di dinding’, hari ini kuajarkan sebuah lagu :

Ibu kita, Kartini… Putri sejati..

Mata bocah laki-laki yang mungil itu mengerjap. Bibirnya membuka mencoba ikuti gerak bibirku.

Tanganku mengambil dua bilah tusuk gigi. Lantas mengayunkannya bak seorang dirigen. Kakak-kakak si bocah malah ikut bernyanyi..

..Putri Indonesia, harum namanya…

Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia...

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia..

 

Andaikata saat ini ibu Kartini melihat kondisi politik negeri pertiwi, juga tentang harapan dan cita-cita para perempuan Indonesia yang selalu dibentur aturan; tentunya ia akan menangis sedih.  Lebih terharu dan miris ketimbang kepedihanku pagi tadi. 

 

- untuk para perempuan Indonesia -

 

   3 komentar

sa
June 5, 2004   03:45 AM PDT
 
terima kasih atas tulisannya **kan kan.. daku perempuan indonesia juga hehe..** (ra, mau ngobrol di sini ? hihihi... punten pak de.. cuma iseng ko :P)
RaRa
June 5, 2004   07:42 AM PDT
 
Nice... Girl's power forever!!!!
Imponk
June 23, 2004   06:34 PM PDT
 
Menempatkan perempuan sesuai tempatnya. Bisakah?

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments