Komentar Karib Tusuk Gigi
Celoteh Benak : BEKERJA DENGAN CINTA..
Wednesday, June 02, 2004



Pagi itu suasana riuh sudah memadati pelataran bandara Sukarno-Hatta.  Aku menepikan trolley yang tadinya sesak dengan gitar, stand-gitar, dua travelling bag, playstation, dan kotak microphone.  Temanku sudah menunggu di ruang eksekutif; mereguk secangkir kopi, ataupun mungkin mengunyah roti, sekedar ritual pengganti sarapan pagi.  Malam nanti, ia akan berdendang di sebuah kafe, di kota Menado.  Kota yang bisa memanjakan mata kaum pria, karena ‘kabarnya’ banyak sekali gadis-gadis cantik di sana.

“Kalau sudah di sana, jangan cuma nikmati bubur Menado.. tapi juga bibir Menado”, begitu SMS salah satu temanku saat tau aku akan pergi ke sana.  Aku cuma tersenyum geli membacanya. 

 

Siapa nyana bila perjalanan ternyata cukup menjengkelkan? Bukan hanya deru mesin yang terdengar bergemuruh hingga ke kabin, namun juga para awak kabin yang tampaknya sulit untuk ‘ramah’ dengan penumpang. Senyuman manis dan binar mata dari topeng cantik, rasanya cuma jadi pelengkap dari menu basa-basi.  Mencoba bandingkan dengan maskapai lain yang menyajikan awak kabin nyaris paruh baya, namun penuh keramahan, tentu tidak semudah itu menjadi jawaban.

Atau bisa jadi ini lantaran pertempuran harga sesama maskapai? Demi efisiensi, para awak kabin ‘terpaksa’ bekerja dengan sistem yang menjadikan mereka tidak lagi bekerja dengan sukacita; sehingga pelayanan yang baik, bukan lagi jadi tujuan utama.

 

“Bisa jadi begitu..” jawab temanku, saat kami mendiskusikan hal ini. Dahulu ia juga salah seorang awak kabin pria. Namun belakangan ia memutuskan untuk jadi seorang pedendang sekaligus penggubah lagu. Alasannya, ia lebih menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan penuh sukacita; dengan penuh cinta.  Betapapun besar materi yang ia dapatkan, atau betapa menggiurkannya fasilitas yang ia terima; ia lebih memilih menuruti kata hatinya dan merasa lebih bisa untuk bekerja dengan cinta, menjadi : seorang musisi.

Tenggelam dalam alam imaji, mengeluarkan endapan pengalaman estetis saat berkontemplasi, menghimpun notasi ke dalam harmoni, menata susunan aksara dan menjadikannya bangunan lirik yang puitis, lalu mendendangkannya sebagai ungkapan hati; adalah sebuah pekerjaan yang membuatnya jauh lebih bersukacita; ketimbang berkutat dengan kesehariannya dulu sebagai seorang pramugara.  Kini, ia telah berhasil memetik buah dari keputusan besar dalam hidupnya yang pernah ia ambil dulu.

 

Bekerja dengan cinta. Sulit, atau mudahkah setiap orang untuk melakukannya? Memang tidak mudah bergegas menjawabnya, sebab kadang seseorang yang merasa ‘bekerja dengan cinta’ juga menyamakan artinya dengan ‘bekerja secara sukarela’. Alhasil, kerapkali terlupa ‘kualitas’ pekerjaan yang dihasilkan.

Pasalnya, berharap pada besar dan kecilnya imbalan, sebenarnya malah menjadi batu sandungan. Bagaimana tidak? Sebuah ukuran pun akan tercipta; ada kualitas berdasar imbalan yang pantas. Tanpa imbalan, kualitas pekerjaan tidak perlu dipertanggungjawabkan.  Tidak perlu dipungkiri, hal ini kerap terjadi dan kita temui.

Padahal – sebaiknya - bekerja dengan cinta, adalah juga memberi kualitas terbaik dari pekerjaan yang kita lakukan, dan semestinya menjadi tujuan utama; bahkan di saat kita suatu kali melakukannya dengan : sukarela.

 

Tiba di Menado, kami dijamu panitia acara untuk singgah di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas Minahasa.  Keringat pun bergulir membasahi dahi, terpicu rasa pedas tak terkendali.

“Ini bang, silahkan…” kata seorang pelayan rumah makan tersebut sambil tersenyum ramah. Tangannya mengulurkan tempat tusuk gigi yang masih penuh, mengganti tempat tusuk gigi yang setengah kosong di meja kami.  Hmm, betapa ramahnya. Tampak tulus, bukan sekedar bicara. Ah, benarkah ia bekerja dengan cinta? atau memang ia diharuskan berlaku ramah seperti itu? Atau, keramahan yang timbul lantaran kehadiran dan ketenaran temanku, sang pendendang?

 

Kerja adalah cinta yang ngejawantah

Jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan,

maka lebih baik jika engkau meninggalkannya.

Lalu mengambil tempat di depan gapura candi.

Meminta sedekah dari mereka :

yang bekerja dengan sukacita.

 

Kahlil Gibran

 

untuk :

teman-teman di tim website klaproject.com, tim fans club klaproject, dan siapapun yang ‘bekerja dengan cinta’..

 

   5 komentar

RaRa
June 2, 2004   02:03 PM PDT
 
Kerja dengan cinta tentunya sangat menyenangkan dibandingkan kerja hanya sebagai pemuas nafkah semata. Kerja dengan cinta akan menghasilkan segalanya menjadi lebih sempurna karnea ada bumbu tambahannya: cinta. Eits, jangan salah.. cinta di sini bukan dalam artian hubungan sepasang insan manusia aja! :p~* hehehe nice article :)~
kutu
June 2, 2004   10:40 PM PDT
 
"kerja dengan cinta" mengingatkanku pada melodi dan lirik yang kuingat benar selagi didendangkan temanmu, yang mantan awak kabin itu mungkin.. :)

"hey... apa kabarmu?" Kalau tidak salah demikian kalimat awalnya. Judulnya Hey ya?

sangat khas, dan tak terlupakan. They're one of my fave musicians.
sa
June 4, 2004   09:02 PM PDT
 
cinta apa nih ? :)
Tusuk Gigi
June 5, 2004   05:36 PM PDT
 
Thk U, Rara.. :)

Kut, judulnya Hey.. tapi bukan 'apa kabarmu?' melainkan 'angkat wajahmu'..hehehe...

Sa..
sepertinya 'unconditional love' kali ya? :P
Imponk
June 23, 2004   06:32 PM PDT
 
bekerja dg cinta memang menyenangkan

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments