Komentar Karib Tusuk Gigi
Celoteh Benak : PENGENDARA SEPEDA MOTOR...
Friday, May 28, 2004



Sejak jaman kuliah di Jogja, aku lumayan terbiasa mengendarai sepeda motor.  Bahkan jarak ke kota-kota di sekitarnya juga kutempuh dengan kendaraan beroda dua ini.  Bisa jadi semua itu membuatku cukup lincah bersisian dengan kendaraan-kendaraan besar di jalan luar kota, atau sekedar menyibak kemacetan jalan-jalan kecil di dalam kota.

 

Seminggu yang lalu, untuk kali pertama aku mengendarai sepeda motor di Jakarta, dengan jarak yang cukup lumayan; membentuk garis dari titik utara dan titik selatan Jakarta. Apalagi hari itu aku janji dengan seorang rekan di sebuah dealer mobil, tidak jauh dari CiToS. Jujur, selama ini aku hanya tau menjelajah jalan-jalan besar dan tol ibukota. Itupun dengan mobil, bukan dengan sepeda motor.  Alhasil, aku mencoba memindai gambaran peta tujuan dan lantas memindahkannya ke benak; berupaya andalkan daya ingat dan tak lupa nasihat lama : “segan bertanya sesat di jalan”.

 

Siang itu, aku mencoba mencapai tujuanku dengan sepeda motor. Wah! ternyata asyik juga berkendara sepeda motor di ibukota! Menyelinap di sela mobil-mobil, meraungkan gas, memijat klakson, menarik tuas kopling, melirik kaca spion, menggoyangkan kemudi..  seperti beragam aktifitas lain yang kerap dilakukan pengendara sepeda motor, dan sesekali memperhatikan tingkah laku para pengendara sepeda motor dari balik kaca helm.

 

Tapi, tiba-tiba saja aku menemukan gambaran lain dari semua ini. Yah, ada beberapa perilaku para pengendara sepeda motor yang sepertinya merupakan gambaran kita dalam melakoni hidup.

Pertama, coba perhatikan. Suatu kali seorang pengendara sepeda motor akan menjadi pemimpin saat menyusup kemacetan. Geraknya pun akan diikuti oleh pengendara lain di belakangnya. Si pemimpin akan berupaya membuka jalan bagi para pengikut di belakangnya. Namun tidak semua pengendara tadi patuh pada langkah si ‘pemimpin’, bisa jadi mereka akan mengambil ‘jalur’ lain. Mereka merasa lebih tahu dari si pemimpin dan mencoba melangkah sendiri.  Seperti halnya dalam hidup, ada kalanya kita jadi pemimpin, adakalanya jadi pengikut. Itu bergantian, dan selalu.

Kedua, ada pengendara yang tampak bergegas, nekat menyelinap di sela mobil-mobil dan tidak mengira ia bakal terjepit di sana; lantas menggores bodi mobil atau bahkan menyenggol spion-nya. Ini sama halnya dengan hidup orang yang gegabah dan tidak punya perhitungan matang. Atau sebaliknya, pengendara yang tampak ragu dan takut untuk menyelinap di sela mobil; adalah gambaran orang yang tidak pernah berani dan ragu mengambil keputusan dalam hidupnya.

Ketiga, ada pengendara yang asyik berjalan santai dan tak sadar menghadang jalan, sementara antrian kian memanjang di belakang. Bisa jadi itu adalah gambaran orang yang tidak peduli dengan sekitar, hanya punya target ‘yang penting tiba di tujuan’, dan juga tidak pernah peduli seberapa cepat semestinya ia mampu melakukan suatu pekerjaan.

Keempat, pengendara yang selalu mau berada di baris terdepan, di lampu merah persimpangan atau bahkan palang perlintasan rel kereta api. Mereka adalah gambaran hidup orang yang selalu mau menjadi yang ‘pertama’ dan tidak pernah peduli dengan ‘bahaya’ yang datang kapanpun.

Kelima..  Aduuuh… ban sepeda motorku bocor!!  Pantas saja gerak ban belakang sedikit tidak mampu kukendalikan. Untunglah, tidak terlalu jauh dan terlalu lama aku menuntun sepeda motor. Tepat di sebelah halte bus, ada tukang tambal ban.  Sambil menunggu ban sepeda motorku yang ditambal, aku duduk di kursi kayu kecil yang disediakan, dan mengamati keriuhan kendaraan yang berlalu-lalang.

 

Lho, kok aku jadi sedikit lupa ya gambaran peta tujuan?

Kudekati si tukang tambal ban, seraya berjongkok, mencoba mengajaknya berbincang.

“Lurus aja terus, mas… nanti gak jauh di depan Citos, ada putaran. Balik arah di sana.. dealer mobilnya berseberangan persis di depan Citos.” jelasnya. 

Lantas tangannya mengguratkan gambar arah tujuanku di atas tanah yang sedikit basah. Bukannya aku menyimak gambar ‘peta instan’ buatannya, namun malah tertarik pada ‘alat’ yang digunakan untuk menggambar. 

Sepertinya... Hei! itu khan tusuk gigi?

 

   0 komentar

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments