Komentar Karib Tusuk Gigi
Celoteh Benak : LILIN dan TUSUK GIGI..
Wednesday, May 19, 2004



Waktu kukecil, seringkali kudengar ajaran berbau dogmatis :

“Kamu harus jadi anak yang baik. Kamu harus menjadi seperti lilin yang memberi terang bagi kegelapan di sekitar”. 

Sejak itu aku berupaya menjadi anak yang baik.

 

Beranjak remaja, kudengar pula ajaran beraroma dogmatis :

“Sebatang lilin tidak akan cukup untuk menerangi kegelapan. Bergabunglah dengan banyak lilin, agar terang kalian menyatu dan kegelapan terhalaukan”.

Sejak itu aku tetap berupaya menjadi anak yang baik, dan hanya bergaul dengan anak-anak yang baik.

 

Di masa remaja, kudengar pula ajaran semerbak dogmatis :

“Nyala sebatang lilin tidak berarti apa-apa di tengah terangnya lilin-lilin yang lain. Jadilah lilin yang menyala terang di tengah kegelapan!”

Sejak itu aku tetap berupaya menjadi anak yang baik, tetap bergaul dengan anak-anak baik, membuka diri dalam pergaulan, dan tidak berapriori negatif terhadap anak-anak lain.

Namun, sejak itu pula, aku tidak mau lagi terjebak dengan ketiga ajaran tadi.

 

Suatu kali di masa SMA (sekarang disebut : SMU), aku dan teman-teman nongkrong di sebuah rumah kost milik sepupu temanku. Beberapa teman asyik berilusi sembari menghisap lintingan ganja. Yang lain ada yang mencoba murah meriah mencapai alam imaji dengan menghisap aroma lem kalengan. Aku? Hanya duduk-duduk di teras rumah, bermain gitar, sembari menghisap rokok..  Lalu ketika beberapa dari mereka mengajak bergabung, aku coba pergi menghindar dengan alasan : lapar. 

“Eh sorry! Gue cabut dululah! Kémék dulu neh!” teriakku dari teras. Rokok di jemari kujentikkan, terlempar ke selokan. Aku meninggalkan mereka, mencari warung makan.

 

Di sebuah warung makan kecil, dengan lahap kusantap sepiring nasi rames.  Tiba-tiba si mbok penjual menyalakan sebatang lilin dan lantas meletakkannya di dekatku. Aku bingung, kok di siang terik dan terang benderang seperti ini malah menyalakan lilin?

“Banyak lalat ya, dik? Nih saya nyalain lilin..” kata si mbok penjual, seolah tau kebingunganku.

Aku tertegun, ada lagu pencerahan mengalun.

Sebatang lilin memang tidak berguna ketika ia diharapkan sebagai penerang di tengah cahaya lain yang lebih terang. Tapi ia akan tampak lebih jauh berguna ketika tanpa disadari ia memiliki fungsi lain : mengusir lalat! 

Mungkin ini juga bisa terjadi pada diri kita. Ketika suatu kali kita merasa bahwa kita tidak mampu melakukan satu pekerjaan yang sebenarnya sudah menjadi tugas utama kita; kita masih bisa melakukan hal lain yang juga berguna bahkan bisa jadi lebih berarti ketimbang tugas utama tadi.

 

Pagi ini tadi, CD-ROMku sempat macet. Ada sekeping CD tertinggal di dalam, dan tombol Eject tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kucoba berbagai cara, sampai kujumpai sebuah lubang kecil di dekat disk-tray. Kucolok lubang itu dengan sebatang tusuk gigi. Mekanis pengait tersentuh, dan.. Aha, tuntas sudah masalah. Keping CD itu akhirnya bisa kukeluarkan.

 

Wah, Ternyata tusuk gigi bisa juga difungsikan lain ya? :)

 

Banyak ajaran semisal jendela kaca

Melaluinya kita melihat kebenaran

Tetapi kita dibatasinya pula

 

Kahlil Gibran

 

   0 komentar

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments