Komentar Karib Tusuk Gigi
Celoteh Benak : SMS KEONG..
Friday, April 30, 2004



“Lowongan pekerjaan : Dicari penyayang binatang dan penyabar. Fee 100 USD untuk menggiring keong dari Jakarta ke Bogor.  Demikian Layanan Pesan Singkat – Indonesianisasi dari SMS :) -  yang tertera di layar ponselku semalam. 

Aku tau SMS itu pasti forwarding dan bukan ditulis langsung oleh si pengirim. Entah siapa penulis pertama, yang jelas – kalau boleh jujur - menurutku SMS tadi agak kurang lucu untuk membuat orang yang membacanya terpingkal atau terbahak-bahak.  Tapi untuk sekedar membuat meringis atau nyengir, bolehah. Cukup berhasil, setidaknya :)

 

Namun seandainya SMS tadi dianggap serius, belum tentu orang akan tergiur dengan lowongan seperti itu.  Apa pasal? Bukan lantaran pekerjaan menggiring keong yang bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan sampai republik ini steril dari bakteri korupsi;  tapi satu hal : kesabaran.  Sesuatu yang rasanya semakin sulit untuk sepenuhnya kita miliki.

 

Cobalah mengingat, acapkali mata air kesabaran kita seringkali tersedot oleh : antrian panjang di dermaga penyeberangan, lambatnya akses internet di negeri ini, mobil di depan kita yang berjalan lambat padahal sebentar lagi lampu persimpangan akan segera berganti merah, penyelesaian klaim asuransi yang tidak segegas saat kali pertama menawarkan jasanya, yah pokoknya lumayan banyaklah...

 

Seandainya kesabaran tertuang dalam bejana; ternyata kita lebih sering menumpahkan dan perlahan menghabiskannya, ketimbang berupaya untuk menambah isi bejananya. Banyak orang bisa menjumawakan kepandaiannya, kekayaannya, kesempurnaan penampilannya, tapi : kesabarannya?

 

Pagi tadi aku sarapan bersama adikku. Di geliginya terlihat rangkaian kawat penata. Pertanda usai, sendok di piringnya telah bertumpu menyilang. Tangannya menggapai sekotak tusuk gigi, menjumputnya sebatang, lalu menggunakannya dengan penuh : kesabaran. Tidak segegas ketika ia menyantap telur mata sapi setengah matang di awal sarapan, dan tidak juga segegas nanti, ketika ia berdiri, menyambar tas dan setengah berlari ke luar rumah.

Aku mengambil sebatang tusuk gigi, menggunakannya perlahan, juga dengan penuh kesabaran. Tapi bukan lantaran kawat penata, itu aku tidak punya. Gusiku mudah peka. Itu saja.

   0 komentar

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments