Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< July 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, June 02, 2004
BEKERJA DENGAN CINTA..

Pagi itu suasana riuh sudah memadati pelataran bandara Sukarno-Hatta.  Aku menepikan trolley yang tadinya sesak dengan gitar, stand-gitar, dua travelling bag, playstation, dan kotak microphone.  Temanku sudah menunggu di ruang eksekutif; mereguk secangkir kopi, ataupun mungkin mengunyah roti, sekedar ritual pengganti sarapan pagi.  Malam nanti, ia akan berdendang di sebuah kafe, di kota Menado.  Kota yang bisa memanjakan mata kaum pria, karena ‘kabarnya’ banyak sekali gadis-gadis cantik di sana.

“Kalau sudah di sana, jangan cuma nikmati bubur Menado.. tapi juga bibir Menado”, begitu SMS salah satu temanku saat tau aku akan pergi ke sana.  Aku cuma tersenyum geli membacanya. 

 

Siapa nyana bila perjalanan ternyata cukup menjengkelkan? Bukan hanya deru mesin yang terdengar bergemuruh hingga ke kabin, namun juga para awak kabin yang tampaknya sulit untuk ‘ramah’ dengan penumpang. Senyuman manis dan binar mata dari topeng cantik, rasanya cuma jadi pelengkap dari menu basa-basi.  Mencoba bandingkan dengan maskapai lain yang menyajikan awak kabin nyaris paruh baya, namun penuh keramahan, tentu tidak semudah itu menjadi jawaban.

Atau bisa jadi ini lantaran pertempuran harga sesama maskapai? Demi efisiensi, para awak kabin ‘terpaksa’ bekerja dengan sistem yang menjadikan mereka tidak lagi bekerja dengan sukacita; sehingga pelayanan yang baik, bukan lagi jadi tujuan utama.

 

“Bisa jadi begitu..” jawab temanku, saat kami mendiskusikan hal ini. Dahulu ia juga salah seorang awak kabin pria. Namun belakangan ia memutuskan untuk jadi seorang pedendang sekaligus penggubah lagu. Alasannya, ia lebih menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan penuh sukacita; dengan penuh cinta.  Betapapun besar materi yang ia dapatkan, atau betapa menggiurkannya fasilitas yang ia terima; ia lebih memilih menuruti kata hatinya dan merasa lebih bisa untuk bekerja dengan cinta, menjadi : seorang musisi.

Tenggelam dalam alam imaji, mengeluarkan endapan pengalaman estetis saat berkontemplasi, menghimpun notasi ke dalam harmoni, menata susunan aksara dan menjadikannya bangunan lirik yang puitis, lalu mendendangkannya sebagai ungkapan hati; adalah sebuah pekerjaan yang membuatnya jauh lebih bersukacita; ketimbang berkutat dengan kesehariannya dulu sebagai seorang pramugara.  Kini, ia telah berhasil memetik buah dari keputusan besar dalam hidupnya yang pernah ia ambil dulu.

 

Bekerja dengan cinta. Sulit, atau mudahkah setiap orang untuk melakukannya? Memang tidak mudah bergegas menjawabnya, sebab kadang seseorang yang merasa ‘bekerja dengan cinta’ juga menyamakan artinya dengan ‘bekerja secara sukarela’. Alhasil, kerapkali terlupa ‘kualitas’ pekerjaan yang dihasilkan.

Pasalnya, berharap pada besar dan kecilnya imbalan, sebenarnya malah menjadi batu sandungan. Bagaimana tidak? Sebuah ukuran pun akan tercipta; ada kualitas berdasar imbalan yang pantas. Tanpa imbalan, kualitas pekerjaan tidak perlu dipertanggungjawabkan.  Tidak perlu dipungkiri, hal ini kerap terjadi dan kita temui.

Padahal – sebaiknya - bekerja dengan cinta, adalah juga memberi kualitas terbaik dari pekerjaan yang kita lakukan, dan semestinya menjadi tujuan utama; bahkan di saat kita suatu kali melakukannya dengan : sukarela.

 

Tiba di Menado, kami dijamu panitia acara untuk singgah di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas Minahasa.  Keringat pun bergulir membasahi dahi, terpicu rasa pedas tak terkendali.

“Ini bang, silahkan…” kata seorang pelayan rumah makan tersebut sambil tersenyum ramah. Tangannya mengulurkan tempat tusuk gigi yang masih penuh, mengganti tempat tusuk gigi yang setengah kosong di meja kami.  Hmm, betapa ramahnya. Tampak tulus, bukan sekedar bicara. Ah, benarkah ia bekerja dengan cinta? atau memang ia diharuskan berlaku ramah seperti itu? Atau, keramahan yang timbul lantaran kehadiran dan ketenaran temanku, sang pendendang?

 

Kerja adalah cinta yang ngejawantah

Jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan,

maka lebih baik jika engkau meninggalkannya.

Lalu mengambil tempat di depan gapura candi.

Meminta sedekah dari mereka :

yang bekerja dengan sukacita.

 

Kahlil Gibran

 

untuk :

teman-teman di tim website klaproject.com, tim fans club klaproject, dan siapapun yang ‘bekerja dengan cinta’..

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 12:16:50 am ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Friday, May 28, 2004
PENGENDARA SEPEDA MOTOR...

Sejak jaman kuliah di Jogja, aku lumayan terbiasa mengendarai sepeda motor.  Bahkan jarak ke kota-kota di sekitarnya juga kutempuh dengan kendaraan beroda dua ini.  Bisa jadi semua itu membuatku cukup lincah bersisian dengan kendaraan-kendaraan besar di jalan luar kota, atau sekedar menyibak kemacetan jalan-jalan kecil di dalam kota.

 

Seminggu yang lalu, untuk kali pertama aku mengendarai sepeda motor di Jakarta, dengan jarak yang cukup lumayan; membentuk garis dari titik utara dan titik selatan Jakarta. Apalagi hari itu aku janji dengan seorang rekan di sebuah dealer mobil, tidak jauh dari CiToS. Jujur, selama ini aku hanya tau menjelajah jalan-jalan besar dan tol ibukota. Itupun dengan mobil, bukan dengan sepeda motor.  Alhasil, aku mencoba memindai gambaran peta tujuan dan lantas memindahkannya ke benak; berupaya andalkan daya ingat dan tak lupa nasihat lama : “segan bertanya sesat di jalan”.

 

Siang itu, aku mencoba mencapai tujuanku dengan sepeda motor. Wah! ternyata asyik juga berkendara sepeda motor di ibukota! Menyelinap di sela mobil-mobil, meraungkan gas, memijat klakson, menarik tuas kopling, melirik kaca spion, menggoyangkan kemudi..  seperti beragam aktifitas lain yang kerap dilakukan pengendara sepeda motor, dan sesekali memperhatikan tingkah laku para pengendara sepeda motor dari balik kaca helm.

 

Tapi, tiba-tiba saja aku menemukan gambaran lain dari semua ini. Yah, ada beberapa perilaku para pengendara sepeda motor yang sepertinya merupakan gambaran kita dalam melakoni hidup.

Pertama, coba perhatikan. Suatu kali seorang pengendara sepeda motor akan menjadi pemimpin saat menyusup kemacetan. Geraknya pun akan diikuti oleh pengendara lain di belakangnya. Si pemimpin akan berupaya membuka jalan bagi para pengikut di belakangnya. Namun tidak semua pengendara tadi patuh pada langkah si ‘pemimpin’, bisa jadi mereka akan mengambil ‘jalur’ lain. Mereka merasa lebih tahu dari si pemimpin dan mencoba melangkah sendiri.  Seperti halnya dalam hidup, ada kalanya kita jadi pemimpin, adakalanya jadi pengikut. Itu bergantian, dan selalu.

Kedua, ada pengendara yang tampak bergegas, nekat menyelinap di sela mobil-mobil dan tidak mengira ia bakal terjepit di sana; lantas menggores bodi mobil atau bahkan menyenggol spion-nya. Ini sama halnya dengan hidup orang yang gegabah dan tidak punya perhitungan matang. Atau sebaliknya, pengendara yang tampak ragu dan takut untuk menyelinap di sela mobil; adalah gambaran orang yang tidak pernah berani dan ragu mengambil keputusan dalam hidupnya.

Ketiga, ada pengendara yang asyik berjalan santai dan tak sadar menghadang jalan, sementara antrian kian memanjang di belakang. Bisa jadi itu adalah gambaran orang yang tidak peduli dengan sekitar, hanya punya target ‘yang penting tiba di tujuan’, dan juga tidak pernah peduli seberapa cepat semestinya ia mampu melakukan suatu pekerjaan.

Keempat, pengendara yang selalu mau berada di baris terdepan, di lampu merah persimpangan atau bahkan palang perlintasan rel kereta api. Mereka adalah gambaran hidup orang yang selalu mau menjadi yang ‘pertama’ dan tidak pernah peduli dengan ‘bahaya’ yang datang kapanpun.

Kelima..  Aduuuh… ban sepeda motorku bocor!!  Pantas saja gerak ban belakang sedikit tidak mampu kukendalikan. Untunglah, tidak terlalu jauh dan terlalu lama aku menuntun sepeda motor. Tepat di sebelah halte bus, ada tukang tambal ban.  Sambil menunggu ban sepeda motorku yang ditambal, aku duduk di kursi kayu kecil yang disediakan, dan mengamati keriuhan kendaraan yang berlalu-lalang.

 

Lho, kok aku jadi sedikit lupa ya gambaran peta tujuan?

Kudekati si tukang tambal ban, seraya berjongkok, mencoba mengajaknya berbincang.

“Lurus aja terus, mas… nanti gak jauh di depan Citos, ada putaran. Balik arah di sana.. dealer mobilnya berseberangan persis di depan Citos.” jelasnya. 

Lantas tangannya mengguratkan gambar arah tujuanku di atas tanah yang sedikit basah. Bukannya aku menyimak gambar ‘peta instan’ buatannya, namun malah tertarik pada ‘alat’ yang digunakan untuk menggambar. 

Sepertinya... Hei! itu khan tusuk gigi?

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 1:33:10 am ~ Ingin berkomentar?  



Wednesday, May 19, 2004
LILIN dan TUSUK GIGI..

Waktu kukecil, seringkali kudengar ajaran berbau dogmatis :

“Kamu harus jadi anak yang baik. Kamu harus menjadi seperti lilin yang memberi terang bagi kegelapan di sekitar”. 

Sejak itu aku berupaya menjadi anak yang baik.

 

Beranjak remaja, kudengar pula ajaran beraroma dogmatis :

“Sebatang lilin tidak akan cukup untuk menerangi kegelapan. Bergabunglah dengan banyak lilin, agar terang kalian menyatu dan kegelapan terhalaukan”.

Sejak itu aku tetap berupaya menjadi anak yang baik, dan hanya bergaul dengan anak-anak yang baik.

 

Di masa remaja, kudengar pula ajaran semerbak dogmatis :

“Nyala sebatang lilin tidak berarti apa-apa di tengah terangnya lilin-lilin yang lain. Jadilah lilin yang menyala terang di tengah kegelapan!”

Sejak itu aku tetap berupaya menjadi anak yang baik, tetap bergaul dengan anak-anak baik, membuka diri dalam pergaulan, dan tidak berapriori negatif terhadap anak-anak lain.

Namun, sejak itu pula, aku tidak mau lagi terjebak dengan ketiga ajaran tadi.

 

Suatu kali di masa SMA (sekarang disebut : SMU), aku dan teman-teman nongkrong di sebuah rumah kost milik sepupu temanku. Beberapa teman asyik berilusi sembari menghisap lintingan ganja. Yang lain ada yang mencoba murah meriah mencapai alam imaji dengan menghisap aroma lem kalengan. Aku? Hanya duduk-duduk di teras rumah, bermain gitar, sembari menghisap rokok..  Lalu ketika beberapa dari mereka mengajak bergabung, aku coba pergi menghindar dengan alasan : lapar. 

“Eh sorry! Gue cabut dululah! Kémék dulu neh!” teriakku dari teras. Rokok di jemari kujentikkan, terlempar ke selokan. Aku meninggalkan mereka, mencari warung makan.

 

Di sebuah warung makan kecil, dengan lahap kusantap sepiring nasi rames.  Tiba-tiba si mbok penjual menyalakan sebatang lilin dan lantas meletakkannya di dekatku. Aku bingung, kok di siang terik dan terang benderang seperti ini malah menyalakan lilin?

“Banyak lalat ya, dik? Nih saya nyalain lilin..” kata si mbok penjual, seolah tau kebingunganku.

Aku tertegun, ada lagu pencerahan mengalun.

Sebatang lilin memang tidak berguna ketika ia diharapkan sebagai penerang di tengah cahaya lain yang lebih terang. Tapi ia akan tampak lebih jauh berguna ketika tanpa disadari ia memiliki fungsi lain : mengusir lalat! 

Mungkin ini juga bisa terjadi pada diri kita. Ketika suatu kali kita merasa bahwa kita tidak mampu melakukan satu pekerjaan yang sebenarnya sudah menjadi tugas utama kita; kita masih bisa melakukan hal lain yang juga berguna bahkan bisa jadi lebih berarti ketimbang tugas utama tadi.

 

Pagi ini tadi, CD-ROMku sempat macet. Ada sekeping CD tertinggal di dalam, dan tombol Eject tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kucoba berbagai cara, sampai kujumpai sebuah lubang kecil di dekat disk-tray. Kucolok lubang itu dengan sebatang tusuk gigi. Mekanis pengait tersentuh, dan.. Aha, tuntas sudah masalah. Keping CD itu akhirnya bisa kukeluarkan.

 

Wah, Ternyata tusuk gigi bisa juga difungsikan lain ya? :)

 

Banyak ajaran semisal jendela kaca

Melaluinya kita melihat kebenaran

Tetapi kita dibatasinya pula

 

Kahlil Gibran

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:55:54 am ~ Ingin berkomentar?  



Friday, May 14, 2004
IZINKAN MEMUJA...

Entah untuk keberapa kalinya lagu-lagu milik KLa Project seperti ‘dejavu’, terjadi dan mirip dengan perjalanan cinta siapapun. Dan ternyata bukan cuma aku yang merasa.  Para penggemar, yang menyebut diri KLanis, juga merasakan hal yang sama dan menumpahkan curahan hati di situs KLa Project. Tentang kisah kasih mereka, terayun bimbang, terhempas ataupun menghempas, penantian cinta tanpa ujung, hingga keinginan untuk hanya memuja tanpa sekalipun ingin memiliki. Itulah lagu terbaru milik KLa yang impresif pada penampilan mereka di salah satu stasiun televisi Minggu malam lalu.

 

Memuja tanpa ingin memiliki? Ego-sentriskah? Tidak juga. Bukankah tidak ada larangan untuk memuja atau bahkan mencintai seseorang? Selama berbagai alasan untuk itu masih bisa diterima dengan akal sehat, mengapa tidak?

 

Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan dia..” kalimat serupa ini rasanya kali pertama kutemui dalam novel pop lama, lalu termodifikasi di banyak cerpen, puisi, dan bisa jadi sekarang ada di mana-mana. Kalimat yang kurasa begitu menyentuh dan ada benarnya, bahkan kutambahi dengan : “..sehingga Tuhan lupa membuat kembarannya”.. Hehehe..  bahkan kalimat ini juga pernah jadi perdebatan via SMS dengan temanku, yang merasa kekagumanku begitu berlebihan terhadap sosok seseorang. Terserah bila ada yang kontan protes dan merasa ada pelecehan theologis di sini :)

Padahal, hihihi.. temanku itu tentu akan jauh lebih tercengang melihat mousepad-ku, wallpaper dan screensaver komputerku, kalendar mejaku, atau poster mozaik lebar seluas langit-langit kamar; Atau beberapa lagu ciptaanku yang terinspirasi lantaran keindahan sejati pada dirinya yang terpahat begitu sempurna; Atau prosa ringkas bersahaja yang cuma menjadi ornamen di buku harian semata, tapi – jujur saja - kuciptakan dengan rasa kekaguman tak terhingga.. 

 

Beberapa hari yang lalu, ketika salah satu celotehanku di weblog ini sedikit berkisah tentang sosok Dian Sastro; kontan ada beberapa yang mencoba menggugahku dari ‘mimpi yang sempurna’ (Hei? Judul lagu Peter Pan ya?) dan mengajakku untuk lebih jelas melihat siapa dan bagaimana Diandra Paramitha Sastrowardoyo sebenarnya..

Duh, tenang saja karibku :)  Tenanglah, ketika suatu kali aku mengatakan aku tergila-gila, itu bukan berarti aku gila.. hahaha :D 

Sepasang suami isteri;  yang satu pedendang, yang satu pelakon. Mereka cukup tau tentang bagaimana aku menyimpan kekaguman pada sosok yang kadang mereka jumpai dalam komunitas mereka – masyarakat pesohor. Mereka tercengang mendengar kisahku. Bukan, bukan lantaran rasa kekagumanku; tapi justru ketidakinginanku untuk ‘sekalipun’ bertemu dengannya, sengaja ataupun tidak disengaja.  Inilah yang kumaksud dan kuinginkan dengan ‘tergila tanpa merasa gila’.

Ini bukan berarti aku mencoba menutup mata atas cela yang ada pada dirinya, berlaku seolah tidak ada kekurangan apapun ada dirinya. Tidak samasekali.

 

Samasekali aku tidak ingin pernah bertemu dengan dia.

Ketika ada sepotong lirik menyatakan ‘Cinta tak harus memiliki’, rasanya lagu milik KLa tadi juga mewakili : ‘Memuja, tanpa perlu memiliki...’

Aku hanya ingin memuja. Itu saja.   Menatap dari kejauhan, segala keindahan yang tersaji pada dirinya, menikmatinya seolah menatap pelangi yang terjadi di sisa hujan, merasakan salah satu keagungan karya surgawi… ya, itu saja.

 

Saat mengetik celotehku ini, dari speaker di kiri-kanan monitor komputerku terdengar lagu terbaru milik KLa. Tidak sengaja kurekam, saat menyaksikan mereka di Barbados Café.

“Izinkan kumemuja, tanpa perlu memiliki… tak ingin aku usik kebebasanmu…

Cukuplah senyuman jadi suluh yang memberi, kehangatan kalbu, menjalani hariku..”

Lirik lagu yang menyentuh.

Kunikmati lagu itu, sembari melakukan kebiasaanku : menggigit tusuk gigi.

 

thx to Perca, dan Kutubuku..

n da nu KLa! - Katon, Adi, Erwin, Yoel dan Hari..

n of course, Dian Sastrowardoyo! :)

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 9:06:21 am ~ Komentar (2) karib Tusuk Gigi  



Monday, May 10, 2004
SUKA IKLAN APA SIH?

Di suatu siang. Di tengah kepadatan lalu lintas Jakarta. Jarum speedometer tak pernah bergerak melebar.

“Eh, lo suka iklan apa sih?” tanya temanku yang sudah lima tahun ini bekerja di sebuah perusahaan periklanan.  Kami baru saja ‘reuni’ sembari makan siang, setelah hampir enam tahun tidak bertemu.

“Gue suka iklan yang ceritanya ada cewek digoda di sebuah lobby hotel, terus si cewek ngebela diri, loncat di atas kepala orang-orang, dan ujung-ujungnya si penggoda tadi terlempar keluar dari jendela.” jawabku sambil melirik dari kaca spion tengah.

“Ooo.. itu. Lalu apa lagi?” sambungnya.

“Iklan sabun kecantikan. Saking lembutnya tuh pengaruh sabun, tangan si cewek begitu licin dan jadi susah buat diajak dansa..” jawabku lagi.

“hmm.. terus?” sepertinya dia makin penasaran dengan iklan favoritku berikutnya.

“Iklan produk elektronik yang bikin kuis, dan pemenangnya bisa ikutan nonton Forrmula 1 di Shanghai.. ” sahutku tenang sambil mengulum senyum.

“Eh, ‘bentar.. Rasanya iklan-iklan yang elo sebut itu, dibintangi Dian Sastro semua khan?” Matanya tampak melotot ke arahku. Tangannya yang hendak mengulas lipstik berhenti sejenak.

“Heheheh.. iya. Gue cuma suka iklan yang ada Dian Sastro-nya” jawabku meringis menahan cubitan kecil yang tiba-tiba bersarang di pangkal lengan.  Kepalanya menggeleng. Ada yang tidak bisa hilang dari diriku, sejak kami bersama di bangku kuliah dulu : Aku, si pemuja keindahan :)

 

Entah kenapa, rasanya aku lebih bisa menikmati sebuah iklan hanya di media televisi; ketimbang media lain seperti radio yang cuma mengandalkan telinga, ataupun media cetak yang hanya mengandalkan mata.  Mungkin juga sebagian orang punya pendapat sama - penyatuan citra gerak dan suara yang tertangkap mata dan telinga, terasa lebih mengena.

 

Kata temanku tadi, untuk membuat iklan yang mudah diingat, tidak selamanya mudah. Hanya ada dua pilihan relatif; membuat iklan yang sangat bagus atau bahkan sangat jelek. Lalu, bla-bla-bla, bercelotehlah ia tentang iklan berdasar kitab-kitab akademis semasa kuliah dulu. Aku cuma manggut-manggut. Obrolan lumayan penambah wawasan sekaligus mengusir penat kemacetan.

Iklan bagus agar disuka? Atau iklan jelek agar dibenci? Kedua-duanya sadar atau tidak sadar, justru paling sering diingat masyarakat. Tapi ada yang tidak peduli; bagus atau tidak bagus, keduanya sama-sama dibenci bila muncul kerap kali. Lantaran dianggap mengganggu kenikmatan mengunyah tayangan. Aha! Temanku juga berpesan; jangan menonton iklan saat sedang makan. Bisa jadi iklan macam obat penyakit kulit yang lugas tergambar; akan membuat selera dan nafsu makan kita tidak lagi berkobar.

 

Jangan terlalu membenci iklanlah, katanya lagi. Ia bisa menolong kita untuk sejenak rehat menikmati tayangan, memberi kesempatan ke kamar kecil, mengambil cemilan, atau minum air demi kesehatan ginjal. Bukan hanya itu, kadang ada pula iklan yang secara tidak langsung menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, dan bahkan memancing kreatifitas kita!  Atau, jadikan saja sebagai salah satu peranti penghibur. Iklan-iklan yang dikemas kocak, lucu dan segar bisa jadi alasan untuk melaksanakan semboyan ‘tertawa itu sehat’.  Atau seperti aku? Menikmati sosok Dian Sastro yang jarang terpublikasi di layar televisi; dan hanya bisa tersaji di iklan dan film pilihannya.. hahaha :D

 

“Eh, weekend besok… mau pergi ke Bandung bareng aku?” tanya temanku ketika ia kembali kuantar ke depan lobby kantornya. Aku nyengir lantaran merasa tersindir, aksentuasi kalimat tadi mirip gaya bicara Dian Sastro yang berkostum ala pembalap di iklan Panasonic. Aku memberi kode dengan ibu jari dan kelingking mengacung membentuk ponsel, lalu dengan bahasa bibir : “I Call U L8er”.

 

Pedal gas kutekan, mencoba membelah kemacetan Jakarta. Hei, ternyata tidak semua produk perlu diiklankan ya? Lihat saja : peniti. Benda yang nyaris tak terpikirkan, tapi ternyata sangat penting - khususnya bagi kaum wanita. Tapi pernahkah kita melihat iklan peniti? Atau… aha! Tusuk gigi! Hihihi.. rasanya tidak perlu diiklankan, tapi kerap dicari orang seusai makan :) Nah, lalu apa lagi ya?


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:10:07 am ~ Komentar (3) karib Tusuk Gigi  



Next Page