Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< May 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, June 27, 2004
KOREK API atau TUSUK GIGI?

Sungguh menyebalkan memang. Pesawat yang akan kami tumpangi, harusnya berangkat pukul 18.40 WIB. Namun baru saja terdengar pemberitahuan, bahwa pesawat akan berangkat sekitar pukul 20.30! Duh! Apalagi alasannya? Ada yang bilang ini lantaran sistem komputer yang overloaded, sehingga berpengaruh pada jadual penerbangan dan juga distribusi penumpang yang ‘tidak sengaja’ bertiket kembar.

 

Sayup-sayup televisi di ruang executive lounge berkisah tentang petaka kebakaran hutan di negeri ini, yang asapnya melanglang hingga mengganggu negeri jiran. Yah, bisa jadi memang asap ini juga menjadi penyebab terhalangnya jadual penerbangan di sejumlah maskapai.  Kebakaran hutan. Benarkah terbakar atau malah - sengaja - dibakar?  Apapun alasannya, tentu saja tidak dapat dibenarkan.  Lalu, sembari membunuh waktu, hal itu malah jadi bahan obrolan di sekitar meja kami.  Ada yang berkata, bisa jadi pembakaran hutan itu bermuatan politis. Atau, bla-bla-bla..

 

Aku mulai jenuh dan beranjak dari kursi. Menuju sudut ruang khusus untuk para perokok. Mencoba membunuh waktu dengan ritual : merokok. Ya ampun, zippo-ku tertinggal di rumah!  Di meja kutemukan sekotak korek api bermerk nama sebuah maskapai. Entah milik siapa. Cress! korek api menyala, ujung sigaret pun membara. Awan putih terhembus dari bibir, berharap jenuhku bergegas tersingkir.

 

Kuamati bekas batang korek api yang baru saja menyulut sigaretku. Sepintas, kayu yang menjadi bahan bakunya mirip bahan baku sebatang tusuk gigi.  Mungkin yang menjadi pembeda hanyalah bentuk mereka, dan tentu saja ‘pemicu’ nyala api di ujung batang korek api. Mudah menyala bila tergesek. Mudah pula menyala bila langsung bertemu api.

 

Hmm.. seperti cermin saja aku memandang semua ini dengan benakku.. Yah, bisa jadi sama seperti kita semua. Kita semua sama.. tercipta olehNya, tanpa pembeda. Namun sering tanpa sadar, sesekali malah terjelma menjadi seperti korek api. Mudah terbakar lantaran ‘pemicu’nya mudah tergesek. Emosional, mungkin milik semua orang. Tapi menjadi provokator? Sebut saja itu pekerjaan kotor. 

Lalu, ingin menjadi apakah kita? Sebatang korek api yang mudah tersulut dan menyulut?

Aku hanya ingin menjadi aku : tusuk gigi. Itu saja. :)

 

Kemana hutanku hilang?

Semak perdu merintih

Sribu hujanpun tak mampu

 

bawa hijau padaku
Kemana kicauku terbang

Dahan ranting bersedih

Udara tak lagi ramah

Panas menyiksa bumi

 

Dari 'Ketika Kupulang', lagu/lirik : Katon Bagaskara.

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 11:36:13 am ~ Komentar (4) karib Tusuk Gigi  



Monday, June 14, 2004
TEMAN BAIK

Entah kenapa, di tag-board weblogku, nama panggilanku jadi Tugi..  Bisa jadi, agar lebih mudah dan singkat diucapkan, ketimbang Tusuk Gigi ya? Hehehe..:)

Tugi. Hei, sekilas terucap, terdengar seperti Nugie. Penyanyi cowok bersuara khas, beraliran musik keras. Ingat Nugie, ingat salah satu lagunya yang berjudul “Teman Baik”, dan lantas terbayang di benak, tentang kata TEMAN BAIK.

 

Beberapa tahun lalu, ketika aku menjadi mahasiswa baru dan diwajibkan untuk mengikuti Opspek.  Betapa amburadulnya atribut-atribut yang harus kami pakai, betapa kacaunya penampilan kami ketika harus mengenakan atribut tersebut sejak dari rumah/kost hingga menuju kampus.  Kadang ada atribut tambahan yang mendadak diberitahu sehari sebelum hari opspek berikutnya.  Bisa di­bayangkan betapa gundahnya kami yang be­lum sepenuhnya mengenal kota Yogya, ketika harus menelusuri pelosok-pelosok kota, hanya untuk men­cari benda-benda spesifik dengan alasan atribut opspek.

Pada saat-saat seperti itu; siapa sih yang tidak butuh seorang teman untuk membantu?  Lalu yang nama­nya kebersamaan dan kekompakan seketika tercipta, nggak ada lagi in­dividuali­tas. Semua butuh solidaritas. Semua ingin dikerjakan bersama-sama.  Cari ba­rang sama-sama.  Rasanya semua ingin saling membantu, tanpa sadar menyimpan pam­rih yang ter­sirat.  Pamrih yang tersirat? Ya, bisa jadi.  Situasi gundah seperti masa-masa itu menciptakan keinginan untuk saling membantu dengan tujuan : ya, ingin di­bantu juga.

 

Hmm.. terasa tidak ada yang berbeda setelah itu?  Tumbuh­nya ke­kompakan pada masa-masa opspek ternyata nggak ber­tahan lama.  Bia­sanya, begitu dua semester terlewati, secara nggak sadar mulai tercipta insan-in­san individualistis dan ko­munitas eksklusif.

Teman bukan lagi te­man, tapi jadi lawan saingan.  Indeks prestasi dan perhatian dosen jadi rebutan, jadi bahan aduan, jadi ajang unjuk dada dan pengakuan kemenangan. Kita tidak lagi saling menengadahkan tangan, mengulurkan bantuan; tapi justru saling sikut, saling jegal, saling menggulir demi mempertahankan atau bahkan merebut pun­cak tertinggi. Hasrat unjuk gigi demi legitimasi diri sebagai yang ber­prestasi, sering jadi obsesi tanpa henti.  Lalu dari kondisi seperti itu, malah tercipta satu perilaku sosial yaitu : berteman hanya ketika membutuhkan.  Begitu kebutuhan itu terimpaskan, usai pula jalinan pertemanan. Akhirnya, teman masa opspek, dan kekompakan yang ada, cuma jadi kenangan tersendiri.

Tidak bisa dipungkiri, manusia memang punya hasrat lahiriah untuk selalu membutuhkan orang lain.  Kendati hal ini merupakan dasar bagi ter­bentuknya suatu hubungan, namun sebaiknya bukan berarti hanya berhenti sampai di sana.  Justru hal ini merupa­kan pijakan awal sebelum mengayun langkah-langkah berikut­nya.

Kita perlu bela­jar untuk memahami kebutuhan orang lain, mengenal pribadinya, menerima ke­beradaannya, serta banyak hal lagi.  Saling memberi, saling menerima, saling mengerti, saling menghargai, saling menghormati, saling memiliki adalah sebagian dari sekian banyak hal lain yang mendukung terwujud­nya suatu hubungan yang langgeng dan tidak lekang oleh masa. Kalau saja kita berhenti pada dasar hubungan seperti yang disebutkan di atas, dalam arti ber­teman hanya ketika kita membutuhkannya, lantas menyudahinya ketika ke­butuhan itu telah terpenuhi dan terimpaskan; rasanya kita tidak akan pernah bisa me­nemukan seorang teman baik, dan kita sendiripun juga tidak akan pernah bisa untuk menjadi seorang teman baik.  

 

“Teman baikku berkata : ‘gunakan aku’..

Tak perlu kau risau membayar

Pamrih yang tersirat..

Itulah potongan lirik lagu milik Nugie yang menggugah benakku untuk berceloteh pada saat ini, dan juga sejenak merenungi :

Sudahkah aku menjadi seorang teman baik bagi orang lain?”

 

 

Dedicated to :

Seorang teman baik, yang 14 Juni ini berulang tahun..

“Happy birthday bro! all the best!”


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:22:08 am ~ Komentar (4) karib Tusuk Gigi  



Wednesday, June 09, 2004
PASANGAN JIWA...

Di masa kuliah dulu, aku pernah memiliki komunitas sharing dengan beberapa teman. Kami termasuk akrab dan kerap berbagi rasa peduli. Seperti saat itu; di ruang kostku, di sore yang cerah benderang, ditemani petikan ritmis acoustic alchemy dari tape-ku, perbincangan kami mengulas tentang : Pasangan Jiwa.  Istilah lain yang tampak puitis, sekedar penukar kata jodoh ataupun teman hidup.

 

Dewi dan Eban, saat itu mereka belum menemukan ‘pasangan jiwa’nya.  Kris, sedang ‘pedekate’ dengan seorang adik tingkatnya.  Lalu Dani, baru saja ‘melepas kisah’ dengan pacarnya. Aku? kebetulan saat itu tengah menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi jurusan pariwara.  Masing-masing mengungkapkan tentang kegalauan, kecemasan dan kekuatiran diri, pada satu pertanyaan pribadi : “mungkinkah suatu hari nanti, saya punya pasangan?”.

 

Aku menatap mereka. Satu demi satu. Dewi, mahasiswi komunikasi, berkacamata, rambut kriwil semanis Rachel Maryam, jago main piano. Eban, mahasiwa hubungan internasional, bertubuh besar mirip Ruben Studdard, humoris, penyabar dan punya senyum indah yang menyejukkan tiap orang. Kris, mahasiswa komunikasi, pemuda Batak namun lembut, selalu paling mudah untuk membuat lawan pandang dan lawan bicara terkesima. Dani, mahasiswa sosiologi, berpostur tinggi, anggota paduan suara mahasiswa dan bersuara merdu bak Josh Groban.  Aku? Tidak sehebat mereka. Aku cuma mahasiswa filsafat, berpostur kurus, gondrong, dan lebih sering ke perpustakaan fakultas lain ketimbang fakultas sendiri.  Wow, ingin menambah wawasan sebagai alasan? Tidak juga. Bisa jadi ini lantaran ‘pemandangan’ di fakultas lain yang tampak lebih cerah, bagi aku, si pemuja keindahan.. :) 

 

Lalu apa yang membuat mereka merasa gundah dan ragu untuk mendapat pasangan?  Maka bercelotehlah aku tentang banyak hal.  Jatuh bangun dalam kehidupan percintaan. Diterima, ditolak, terhempas, menghempas, jatuh hati lantaran iba, menjadi orang ketiga, terperdaya, merapuh, dan beragam kisah lain. Aku pernah ‘jalan’ dengan bunga-nya kampus, pernah bersaing secara sehat dengan tiga orang teman untuk mendekati seseorang yang sudah punya pacar! Tapi aku juga pernah ditolak oleh seseorang, yang membuat kalian tercengang dan menyangsikan atribut ‘pemuja keindahan’ yang melekat pada diriku.  Bahkan bila dibandingkan dengan ‘bunga kampus’ tadi, nilainya tidak lebih dari setengah yang dimiliki.  Jadi, sebenarnya keindahan tidak selalu memikat hati atau bahkan menjadi obsesi. Semacam ‘inner beauty’ atau kharisma tersembunyi. Tidak saja bagi kita, namun juga bagi orang lain.

Begitu pula, dalam labirin jalan hidup percintaan seseorang; ada jalur yang – sepertinya – telah ditentukan, bahwa suatu kali akan ada ‘pasangan jiwa’ yang kita temukan. Temukan? Ya, tidak semata diberikan. Itulah makanya dibutuhkan kepekaan, selain waktu dan kesempatan.

Gagal dalam mengenal dan memahami pribadi sang pasangan, adalah semacam proses pendewasaan dan ujian menghadapi rintangan. Itu alami dan menempa kita untuk selalu mencari jawaban terbaik dalam menentukan pilihan.

 

Jadi, mengapa mesti takut, gundah dan ragu untuk mendapatkan pasangan? Cobalah membuka diri dalam pergaulan, karena hal ini tidak saja menambah wawasan, namun juga mencipta kesempatan. Berpekalah mengasah rasa, siapa tahu di antara mereka terselip pasangan jiwa yang telah ditentukan.

 

Perbincangan terhenti sesaat, lantaran melihat Eban tergoda dua kantong plastik yang dibawa Dewi. Begitu dituang di piring, ternyata rujak. Serpihan besar bermacam buah-buahan tampak memicu selera.

“Wah, kayaknya bisa dicolek nih.. ada garpu kecil gak mas?” tanya Eban.

“Hehehe.. kost cowok mana ada barang kayak gitu, Ban..” jelasku sedikit terkekeh.

Tiba-tiba Kris menyela, “Udah, pakai tangan aja! praktis khan?” tangannya menjulur ke arah piring.

“Eh jangan Kris! jorok ih..! Nih, pakai ini aja.. bisa khan?” tanya Dewi. Tangannya menggapai sesuatu, di dekat rak piringku : sekotak tusuk gigi. 

 

Jika pernah terluka lantaran cinta

jangan gurat lukanya dengan kata ‘jera’

pandang sekitar, kembangkan layar

tebarkan jala luas menghampar

Ayo, menangguklah!

~ tusuk gigi ~

 

- bagi para lajang yang kerap terayun bimbang

- komunitas ‘pandangsaujana’.. aku kangen kalian!

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:21:54 pm ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Friday, June 04, 2004
PARA PEREMPUAN

Pagi tadi, tanpa sadar mataku seperti bergetah. Terngiang kata ibuku di masa kecil, pantang bagi anak lelaki untuk mengisak tangis. Tapi pagi tadi, aku begitu terharu dan merasa miris.  Betapa gaduh dan sumbangnya orkestrasi politik Indonesia yang semakin menjadi-jadi. Bahkan kali ini, tidak lagi dengan isu genderisasi yang sudah basi, namun dengan alasan bingkai religi yang menyatakan bahwa perempuan dipantangkan memimpin negeri!
Oh Gusti… tak terkira malangnya makhluk ciptaanMu yang bernama ‘perempuan’.. sejak pertama Kau cipta, mendapat ujian untuk memberi godaan, selalu merasakan pedih di setiap bulan, menyabung hidup dan mati saat melahirkan, dan terbelenggu dalam kodrat untuk selalu menerima kekalahan. Menerima kekalahan? Mengalah? tidak tampak jauh berbeda.

 

Duh, tidakkah para pelontar aturan tadi menyadari bahwa mereka juga terlahir dari rahim seorang perempuan?

 

Adakah yang salah ketika seorang perempuan menjadi supir bus, supir taksi, petugas SPBU, petugas loket jalan tol, bartender, fotografer, sutradara, dan beragam pekerjaan laki-laki lainnya? Apakah karena perempuan dikodratkan sebagai makhuk yang lemah, sehingga mereka hanya dianggap pantas berkutat dengan pekerjaan dan kegiatan yang sedikit tantangan?

Salahkah bila sebagian dari mereka memilih untuk menjadi bagian atau bahkan pemimpin dari sistem pemerintahan dan kenegaraan?

 

Siang tadi aku bercengkerama dengan ketiga anak temanku, di meja makan, rumah mereka.  Putri tertua bertanya, mengapa lebah dan semut dipimpin oleh seorang ratu, dan bukannya raja? Hanya dengan senyum aku menjawabnya. Lantas putra kedua malah berkisah tentang ketua kelasnya, seorang anak perempuan yang judes dan galak; aku pun cuma tersenyum menanggapinya.  Pada putra ketiganya yang selalu bernyanyi ‘cicak-cicak di dinding’, hari ini kuajarkan sebuah lagu :

Ibu kita, Kartini… Putri sejati..

Mata bocah laki-laki yang mungil itu mengerjap. Bibirnya membuka mencoba ikuti gerak bibirku.

Tanganku mengambil dua bilah tusuk gigi. Lantas mengayunkannya bak seorang dirigen. Kakak-kakak si bocah malah ikut bernyanyi..

..Putri Indonesia, harum namanya…

Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia...

Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia..

 

Andaikata saat ini ibu Kartini melihat kondisi politik negeri pertiwi, juga tentang harapan dan cita-cita para perempuan Indonesia yang selalu dibentur aturan; tentunya ia akan menangis sedih.  Lebih terharu dan miris ketimbang kepedihanku pagi tadi. 

 

- untuk para perempuan Indonesia -

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 11:59:35 pm ~ Komentar (3) karib Tusuk Gigi  



Wednesday, June 02, 2004
BEKERJA DENGAN CINTA..

Pagi itu suasana riuh sudah memadati pelataran bandara Sukarno-Hatta.  Aku menepikan trolley yang tadinya sesak dengan gitar, stand-gitar, dua travelling bag, playstation, dan kotak microphone.  Temanku sudah menunggu di ruang eksekutif; mereguk secangkir kopi, ataupun mungkin mengunyah roti, sekedar ritual pengganti sarapan pagi.  Malam nanti, ia akan berdendang di sebuah kafe, di kota Menado.  Kota yang bisa memanjakan mata kaum pria, karena ‘kabarnya’ banyak sekali gadis-gadis cantik di sana.

“Kalau sudah di sana, jangan cuma nikmati bubur Menado.. tapi juga bibir Menado”, begitu SMS salah satu temanku saat tau aku akan pergi ke sana.  Aku cuma tersenyum geli membacanya. 

 

Siapa nyana bila perjalanan ternyata cukup menjengkelkan? Bukan hanya deru mesin yang terdengar bergemuruh hingga ke kabin, namun juga para awak kabin yang tampaknya sulit untuk ‘ramah’ dengan penumpang. Senyuman manis dan binar mata dari topeng cantik, rasanya cuma jadi pelengkap dari menu basa-basi.  Mencoba bandingkan dengan maskapai lain yang menyajikan awak kabin nyaris paruh baya, namun penuh keramahan, tentu tidak semudah itu menjadi jawaban.

Atau bisa jadi ini lantaran pertempuran harga sesama maskapai? Demi efisiensi, para awak kabin ‘terpaksa’ bekerja dengan sistem yang menjadikan mereka tidak lagi bekerja dengan sukacita; sehingga pelayanan yang baik, bukan lagi jadi tujuan utama.

 

“Bisa jadi begitu..” jawab temanku, saat kami mendiskusikan hal ini. Dahulu ia juga salah seorang awak kabin pria. Namun belakangan ia memutuskan untuk jadi seorang pedendang sekaligus penggubah lagu. Alasannya, ia lebih menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan penuh sukacita; dengan penuh cinta.  Betapapun besar materi yang ia dapatkan, atau betapa menggiurkannya fasilitas yang ia terima; ia lebih memilih menuruti kata hatinya dan merasa lebih bisa untuk bekerja dengan cinta, menjadi : seorang musisi.

Tenggelam dalam alam imaji, mengeluarkan endapan pengalaman estetis saat berkontemplasi, menghimpun notasi ke dalam harmoni, menata susunan aksara dan menjadikannya bangunan lirik yang puitis, lalu mendendangkannya sebagai ungkapan hati; adalah sebuah pekerjaan yang membuatnya jauh lebih bersukacita; ketimbang berkutat dengan kesehariannya dulu sebagai seorang pramugara.  Kini, ia telah berhasil memetik buah dari keputusan besar dalam hidupnya yang pernah ia ambil dulu.

 

Bekerja dengan cinta. Sulit, atau mudahkah setiap orang untuk melakukannya? Memang tidak mudah bergegas menjawabnya, sebab kadang seseorang yang merasa ‘bekerja dengan cinta’ juga menyamakan artinya dengan ‘bekerja secara sukarela’. Alhasil, kerapkali terlupa ‘kualitas’ pekerjaan yang dihasilkan.

Pasalnya, berharap pada besar dan kecilnya imbalan, sebenarnya malah menjadi batu sandungan. Bagaimana tidak? Sebuah ukuran pun akan tercipta; ada kualitas berdasar imbalan yang pantas. Tanpa imbalan, kualitas pekerjaan tidak perlu dipertanggungjawabkan.  Tidak perlu dipungkiri, hal ini kerap terjadi dan kita temui.

Padahal – sebaiknya - bekerja dengan cinta, adalah juga memberi kualitas terbaik dari pekerjaan yang kita lakukan, dan semestinya menjadi tujuan utama; bahkan di saat kita suatu kali melakukannya dengan : sukarela.

 

Tiba di Menado, kami dijamu panitia acara untuk singgah di sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas Minahasa.  Keringat pun bergulir membasahi dahi, terpicu rasa pedas tak terkendali.

“Ini bang, silahkan…” kata seorang pelayan rumah makan tersebut sambil tersenyum ramah. Tangannya mengulurkan tempat tusuk gigi yang masih penuh, mengganti tempat tusuk gigi yang setengah kosong di meja kami.  Hmm, betapa ramahnya. Tampak tulus, bukan sekedar bicara. Ah, benarkah ia bekerja dengan cinta? atau memang ia diharuskan berlaku ramah seperti itu? Atau, keramahan yang timbul lantaran kehadiran dan ketenaran temanku, sang pendendang?

 

Kerja adalah cinta yang ngejawantah

Jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan,

maka lebih baik jika engkau meninggalkannya.

Lalu mengambil tempat di depan gapura candi.

Meminta sedekah dari mereka :

yang bekerja dengan sukacita.

 

Kahlil Gibran

 

untuk :

teman-teman di tim website klaproject.com, tim fans club klaproject, dan siapapun yang ‘bekerja dengan cinta’..

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 12:16:50 am ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Next Page