Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< July 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, July 17, 2004
NANTI SAJA DEH..

Kalimat seperti : “nanti saja..” atau “sebentar lagi..” ternyata sesekali cukup ampuh untuk membuat orang lain bersabar. Bahkan kadangkala ini bisa juga dijadikan sebagai salah satu cara yang lumayan halus untuk menolak, dan tidak terlalu membuat orang lain menjadi sakit hati.

 

Tapi akhir-akhir ini, aku sering merasa bahwa kalimat itu tadi sangat berbahaya bila ditujukan ke diri sendiri. Siapa sangka akhir-akhir ini penyakit maag kronisku di jaman kuliah dulu, kembali kambuh lantaran kalimat seperti di atas tadi? Niat ingin sarapan, malah bergeser ke makan siang. Alasannya? ya tentu kalimat itu tadi, ‘nanti saja..’.

 

Pekerjaan yang menumpuk, jadual keseharian yang berantakan, atau proyek yang melebihi tenggat waktu, bisa jadi disebabkan kebiasaan berucap atau berpikiran : “Ah nanti saja, deh..”.  Hingga ketika saat ‘deadline’ tiba, barulah kita merasa panik dan berupaya menyelesaikan segala sesuatunya seringkas dan segegas mungkin. Kualitas? hmm.. malah kerap tak terpikirkan.

Sulit memang untuk merubah kebiasaan yang menganggap segala sesuatu serba gampang, serba mudah, apalagi merasa bisa melakukan segala sesuatu secara perfek, sempurna tanpa cela, kapan saja.  Tidak mudah juga untuk menentukan prioritas bila semata yang menjadi ukuran ‘saklek’ adalah kualitas. Kompromi? mungkin bisa jadi jalan tengah. Tetapi ketika berhasil, biasanya kita malah bergegas bungah. Begitu pula bila gagal atau kalah, kita lantas pasrah menyerah.

 

“Nanti saja, deh..” Bisa jadi kalimat ini yang membuat aku cukup jarang mengisi weblog ini di sela kesibukanku. Namun, lantaran kalimat ini juga, aku kehilangan kesempatan manis yang - menurutku - cukup sayang untuk dilewati. Beberapa malam lalu, di acara peluncuran album terbaru sebuah band lama dengan nama baru; kebetulan aku satu table dengan pesohor2 belia yang cantik dan ‘bening’ :) Wejangan temanku untuk jangan pernah lupa membawa kamera kapanpun dan dimanapun, selalu lekat di benak. Potret bareng seleb cantik? mungkin cuma sedikit cowok yang menolak. “Ah, gampanglah.. nanti aja usai acara”, pikirku malam itu. Toh, sekedar berbincang, menikmati hangat senyuman, atau bahkan bergurau ‘djayus’, sudah cukup ‘memberi kesegaran batin’ buatku..hehe..

Tapi siapa sangka kenyataan berbicara lain? Usai pertunjukan, sementara aku meninggalkan meja dan sibuk berbincang dengan tamu-tamu lain, tanpa sadar para pesohor cantik tadi pamit satu-persatu. Alhasil, ketika kuhampiri meja tadi sudah kosong dan hanya menyisakan gelas-gelas, aku cuma bisa terdiam dan menggigit jari. Seperti analogi, menggambarkan penyesalan yang baru saja terjadi.

Yah, gigit jari. Bukan lagi menggigit tusuk gigi.

Hikz.. hikz.. :-(


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 4:31:13 pm ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Tuesday, July 06, 2004
SEKOTAK COKLAT dan TUSUK GIGI...

Membaca komentar-komentar yang menanggapi tulisanku kemarin, rasanya menjadi keasyikan tersendiri. Hingga ke satu komentar yang mengutip kata-kata sang Ibunda Forest Gump. Ini sejenak membuatku berpikir tentang segala sesuatu dalam hidup. Yang kujalani, yang kulakoni. Yah, bisa jadi benar. Seperti yang dikatakan oleh Mama-nya Forest Gump; ‘hidup ini seperti sekotak coklat, kita tidak pernah tahu (coklat seperti apa) yang kita dapat’.

 

Masih teringat beberapa tahun lalu, saat aku berambisi untuk mendapatkan ‘coklat’ dengan citarasa ‘ingin masuk fakultas psikologi’. Mencoba berkompetisi di ajang UMPTN dua tahun berturut-turut, ternyata malah di Filsafat aku tersangkut. Lalu, lenyapkah ambisiku? Tidak juga. Malah seperti pemeo, ‘gagal dokter, jadi istri dokterpun tak apalah; toh tetap dipanggil Ibu Dokter’ hehehe..  Jadi, lantaran merasa tidak berkesempatan masuk ke fakultas Psikologi; aku tidak kehabisan akal. Kupacari saja mahasiswi Psikologi, siapa tau wawasanku bertambah karenanya? hehehe.. konyol, tapi mujarab kurasa :)

 

Ada kalanya, dalam kurun waktu tertentu, justru aku merasa seperti ada yang menuntunku untuk memilih ‘coklat’ mana yang mesti kuambil. Tidak selalu manis memang, tapi setidaknya memberi perbandingan tersendiri dengan ‘coklat’ yang pernah kuambil sebelumnya atau bahkan dengan ‘coklat’ yang kurencanakan untuk kuambil. Inilah yang kerap kusebut peristiwa ‘kebetulan’ dalam hidup, sesuatu yang tidak dinyana namun terjadi, dan kupercaya ikut mempengaruhi perjalanan hidupku dalam kurun waktu selanjutnya.  Entah itu dalam studi, karir, atau.. teman hidup! :)

 

Perumpamaan pilihan hidup yang tergambar dalam sekotak coklat, memang tak beda jauh dengan sekotak tusuk gigi. Siapa pernah bisa mengira tusuk gigi mana yang akan kita ambil.

Kita mengambil salah satu dan kadang langsung menggunakannya tanpa berpikir. Bagaimana bila sebatang tusuk gigi yang kita kira kuat, ternyata mudah rapuh? Atau yang tampak halus mulus namun serabutnya menembus pori melukai jemari? Atau yang ujungnya menumpul dan tak sanggup menyelinap di sela geligi?

Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan. Tidak pernah tahu. 

Apa benar demikian? Hmm.. aku juga tidak pernah tahu.. :)

Ya, tidak pernah tahu.


thx to Chez! :) 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 5:05:09 pm ~ Komentar (4) karib Tusuk Gigi  



Saturday, July 03, 2004
AMBIL JALAN LAIN...

Biasanya, saat terjebak kemacetan lalu-lintas, kita cenderung berpikir : "Duh, coba lewat jalan lain.. pasti gak akan kena macet seperti ini".  Sudah lazim, penyesalan memang selalu hadir belakangan.

Jalan lain, bisa berarti jalan alternatif atau pengganti. Itupun tidak selalu berarti jalan pintas. Ada kalanya bisa lebih jauh, lebih dekat, atau bisa jadi malah lebih banyak tantangan untuk mencapai tujuan. Jalan lain, bisa didapati saat itu juga sebagai pilihan. Namun bisa saja terjadi bahwa sesekali jalan itu justru harus kita cari dan temukan sendiri. Bahkan ada pula, kita seperti tertuntun untuk beralih ke jalan lain sementara kita telah melangkah cukup lama dan begitu jauh di jalan utama.


Ini tak ubahnya perjalanan hidup seseorang. Seorang anak muda yang baru saja lulus SMU, berdiri di persimpangan jalan pilihan. Memilih untuk kuliah dan terus menambah deretan gelar, atau memilih akademi yang bermasa pendidikan singkat agar langsung bekerja. Atau seseorang yang menapak karir, mengalami stagnasi, lalu akhirnya beralih ke jalan lain. Namun seperti kataku sebelumnya; jalan lain itu bisa saja terhidang sebagai pilihan, atau sesuatu yang harus kita cari dan temukan. Sengaja atau tidak sengaja, itu pula tergantung waktu.


Jalan lain, itu juga bisa diartikan sebagai kesempatan yang memberi warna lain dalam hidup. Bahkan, acapkali terjadi dalam peristiwa hidup keseharian.  Yah, seperti yang kurasa. Dulu, kalau aku tidak mengalami prokrastinasi studi kuliah; dan tetap berada pada 'jalan utama', mungkin aku tidak akan berada di tempat aku duduk sekarang ini :)  Begitu pula, kalau saja beberapa bulan yang lalu aku tidak membaca sebuah majalah komputer yang berkisah tentang weblog; rasanya aku tidak akan pernah mengenal dan tertarik membuat weblog 'tusuk gigi' seperti ini.  Atau.. bisa jadi aku juga tidak akan pernah menemukan korelasi antara kebiasaanku mengunyah tusuk gigi, dengan kebiasaan mengunyah kata-kata dalam benak dan lantas menatanya ke dalam sebuah tulisan? Yah, bisa jadi.. :)


matur tengkyu sanget, untuk para tetamu dan karib setiaku di blog ini.
.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:43:45 pm ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Sunday, June 27, 2004
KOREK API atau TUSUK GIGI?

Sungguh menyebalkan memang. Pesawat yang akan kami tumpangi, harusnya berangkat pukul 18.40 WIB. Namun baru saja terdengar pemberitahuan, bahwa pesawat akan berangkat sekitar pukul 20.30! Duh! Apalagi alasannya? Ada yang bilang ini lantaran sistem komputer yang overloaded, sehingga berpengaruh pada jadual penerbangan dan juga distribusi penumpang yang ‘tidak sengaja’ bertiket kembar.

 

Sayup-sayup televisi di ruang executive lounge berkisah tentang petaka kebakaran hutan di negeri ini, yang asapnya melanglang hingga mengganggu negeri jiran. Yah, bisa jadi memang asap ini juga menjadi penyebab terhalangnya jadual penerbangan di sejumlah maskapai.  Kebakaran hutan. Benarkah terbakar atau malah - sengaja - dibakar?  Apapun alasannya, tentu saja tidak dapat dibenarkan.  Lalu, sembari membunuh waktu, hal itu malah jadi bahan obrolan di sekitar meja kami.  Ada yang berkata, bisa jadi pembakaran hutan itu bermuatan politis. Atau, bla-bla-bla..

 

Aku mulai jenuh dan beranjak dari kursi. Menuju sudut ruang khusus untuk para perokok. Mencoba membunuh waktu dengan ritual : merokok. Ya ampun, zippo-ku tertinggal di rumah!  Di meja kutemukan sekotak korek api bermerk nama sebuah maskapai. Entah milik siapa. Cress! korek api menyala, ujung sigaret pun membara. Awan putih terhembus dari bibir, berharap jenuhku bergegas tersingkir.

 

Kuamati bekas batang korek api yang baru saja menyulut sigaretku. Sepintas, kayu yang menjadi bahan bakunya mirip bahan baku sebatang tusuk gigi.  Mungkin yang menjadi pembeda hanyalah bentuk mereka, dan tentu saja ‘pemicu’ nyala api di ujung batang korek api. Mudah menyala bila tergesek. Mudah pula menyala bila langsung bertemu api.

 

Hmm.. seperti cermin saja aku memandang semua ini dengan benakku.. Yah, bisa jadi sama seperti kita semua. Kita semua sama.. tercipta olehNya, tanpa pembeda. Namun sering tanpa sadar, sesekali malah terjelma menjadi seperti korek api. Mudah terbakar lantaran ‘pemicu’nya mudah tergesek. Emosional, mungkin milik semua orang. Tapi menjadi provokator? Sebut saja itu pekerjaan kotor. 

Lalu, ingin menjadi apakah kita? Sebatang korek api yang mudah tersulut dan menyulut?

Aku hanya ingin menjadi aku : tusuk gigi. Itu saja. :)

 

Kemana hutanku hilang?

Semak perdu merintih

Sribu hujanpun tak mampu

 

bawa hijau padaku
Kemana kicauku terbang

Dahan ranting bersedih

Udara tak lagi ramah

Panas menyiksa bumi

 

Dari 'Ketika Kupulang', lagu/lirik : Katon Bagaskara.

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 11:36:13 am ~ Komentar (4) karib Tusuk Gigi  



Monday, June 14, 2004
TEMAN BAIK

Entah kenapa, di tag-board weblogku, nama panggilanku jadi Tugi..  Bisa jadi, agar lebih mudah dan singkat diucapkan, ketimbang Tusuk Gigi ya? Hehehe..:)

Tugi. Hei, sekilas terucap, terdengar seperti Nugie. Penyanyi cowok bersuara khas, beraliran musik keras. Ingat Nugie, ingat salah satu lagunya yang berjudul “Teman Baik”, dan lantas terbayang di benak, tentang kata TEMAN BAIK.

 

Beberapa tahun lalu, ketika aku menjadi mahasiswa baru dan diwajibkan untuk mengikuti Opspek.  Betapa amburadulnya atribut-atribut yang harus kami pakai, betapa kacaunya penampilan kami ketika harus mengenakan atribut tersebut sejak dari rumah/kost hingga menuju kampus.  Kadang ada atribut tambahan yang mendadak diberitahu sehari sebelum hari opspek berikutnya.  Bisa di­bayangkan betapa gundahnya kami yang be­lum sepenuhnya mengenal kota Yogya, ketika harus menelusuri pelosok-pelosok kota, hanya untuk men­cari benda-benda spesifik dengan alasan atribut opspek.

Pada saat-saat seperti itu; siapa sih yang tidak butuh seorang teman untuk membantu?  Lalu yang nama­nya kebersamaan dan kekompakan seketika tercipta, nggak ada lagi in­dividuali­tas. Semua butuh solidaritas. Semua ingin dikerjakan bersama-sama.  Cari ba­rang sama-sama.  Rasanya semua ingin saling membantu, tanpa sadar menyimpan pam­rih yang ter­sirat.  Pamrih yang tersirat? Ya, bisa jadi.  Situasi gundah seperti masa-masa itu menciptakan keinginan untuk saling membantu dengan tujuan : ya, ingin di­bantu juga.

 

Hmm.. terasa tidak ada yang berbeda setelah itu?  Tumbuh­nya ke­kompakan pada masa-masa opspek ternyata nggak ber­tahan lama.  Bia­sanya, begitu dua semester terlewati, secara nggak sadar mulai tercipta insan-in­san individualistis dan ko­munitas eksklusif.

Teman bukan lagi te­man, tapi jadi lawan saingan.  Indeks prestasi dan perhatian dosen jadi rebutan, jadi bahan aduan, jadi ajang unjuk dada dan pengakuan kemenangan. Kita tidak lagi saling menengadahkan tangan, mengulurkan bantuan; tapi justru saling sikut, saling jegal, saling menggulir demi mempertahankan atau bahkan merebut pun­cak tertinggi. Hasrat unjuk gigi demi legitimasi diri sebagai yang ber­prestasi, sering jadi obsesi tanpa henti.  Lalu dari kondisi seperti itu, malah tercipta satu perilaku sosial yaitu : berteman hanya ketika membutuhkan.  Begitu kebutuhan itu terimpaskan, usai pula jalinan pertemanan. Akhirnya, teman masa opspek, dan kekompakan yang ada, cuma jadi kenangan tersendiri.

Tidak bisa dipungkiri, manusia memang punya hasrat lahiriah untuk selalu membutuhkan orang lain.  Kendati hal ini merupakan dasar bagi ter­bentuknya suatu hubungan, namun sebaiknya bukan berarti hanya berhenti sampai di sana.  Justru hal ini merupa­kan pijakan awal sebelum mengayun langkah-langkah berikut­nya.

Kita perlu bela­jar untuk memahami kebutuhan orang lain, mengenal pribadinya, menerima ke­beradaannya, serta banyak hal lagi.  Saling memberi, saling menerima, saling mengerti, saling menghargai, saling menghormati, saling memiliki adalah sebagian dari sekian banyak hal lain yang mendukung terwujud­nya suatu hubungan yang langgeng dan tidak lekang oleh masa. Kalau saja kita berhenti pada dasar hubungan seperti yang disebutkan di atas, dalam arti ber­teman hanya ketika kita membutuhkannya, lantas menyudahinya ketika ke­butuhan itu telah terpenuhi dan terimpaskan; rasanya kita tidak akan pernah bisa me­nemukan seorang teman baik, dan kita sendiripun juga tidak akan pernah bisa untuk menjadi seorang teman baik.  

 

“Teman baikku berkata : ‘gunakan aku’..

Tak perlu kau risau membayar

Pamrih yang tersirat..

Itulah potongan lirik lagu milik Nugie yang menggugah benakku untuk berceloteh pada saat ini, dan juga sejenak merenungi :

Sudahkah aku menjadi seorang teman baik bagi orang lain?”

 

 

Dedicated to :

Seorang teman baik, yang 14 Juni ini berulang tahun..

“Happy birthday bro! all the best!”


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:22:08 am ~ Komentar (4) karib Tusuk Gigi  



Next Page