Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< June 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, May 19, 2004
LILIN dan TUSUK GIGI..

Waktu kukecil, seringkali kudengar ajaran berbau dogmatis :

“Kamu harus jadi anak yang baik. Kamu harus menjadi seperti lilin yang memberi terang bagi kegelapan di sekitar”. 

Sejak itu aku berupaya menjadi anak yang baik.

 

Beranjak remaja, kudengar pula ajaran beraroma dogmatis :

“Sebatang lilin tidak akan cukup untuk menerangi kegelapan. Bergabunglah dengan banyak lilin, agar terang kalian menyatu dan kegelapan terhalaukan”.

Sejak itu aku tetap berupaya menjadi anak yang baik, dan hanya bergaul dengan anak-anak yang baik.

 

Di masa remaja, kudengar pula ajaran semerbak dogmatis :

“Nyala sebatang lilin tidak berarti apa-apa di tengah terangnya lilin-lilin yang lain. Jadilah lilin yang menyala terang di tengah kegelapan!”

Sejak itu aku tetap berupaya menjadi anak yang baik, tetap bergaul dengan anak-anak baik, membuka diri dalam pergaulan, dan tidak berapriori negatif terhadap anak-anak lain.

Namun, sejak itu pula, aku tidak mau lagi terjebak dengan ketiga ajaran tadi.

 

Suatu kali di masa SMA (sekarang disebut : SMU), aku dan teman-teman nongkrong di sebuah rumah kost milik sepupu temanku. Beberapa teman asyik berilusi sembari menghisap lintingan ganja. Yang lain ada yang mencoba murah meriah mencapai alam imaji dengan menghisap aroma lem kalengan. Aku? Hanya duduk-duduk di teras rumah, bermain gitar, sembari menghisap rokok..  Lalu ketika beberapa dari mereka mengajak bergabung, aku coba pergi menghindar dengan alasan : lapar. 

“Eh sorry! Gue cabut dululah! Kémék dulu neh!” teriakku dari teras. Rokok di jemari kujentikkan, terlempar ke selokan. Aku meninggalkan mereka, mencari warung makan.

 

Di sebuah warung makan kecil, dengan lahap kusantap sepiring nasi rames.  Tiba-tiba si mbok penjual menyalakan sebatang lilin dan lantas meletakkannya di dekatku. Aku bingung, kok di siang terik dan terang benderang seperti ini malah menyalakan lilin?

“Banyak lalat ya, dik? Nih saya nyalain lilin..” kata si mbok penjual, seolah tau kebingunganku.

Aku tertegun, ada lagu pencerahan mengalun.

Sebatang lilin memang tidak berguna ketika ia diharapkan sebagai penerang di tengah cahaya lain yang lebih terang. Tapi ia akan tampak lebih jauh berguna ketika tanpa disadari ia memiliki fungsi lain : mengusir lalat! 

Mungkin ini juga bisa terjadi pada diri kita. Ketika suatu kali kita merasa bahwa kita tidak mampu melakukan satu pekerjaan yang sebenarnya sudah menjadi tugas utama kita; kita masih bisa melakukan hal lain yang juga berguna bahkan bisa jadi lebih berarti ketimbang tugas utama tadi.

 

Pagi ini tadi, CD-ROMku sempat macet. Ada sekeping CD tertinggal di dalam, dan tombol Eject tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kucoba berbagai cara, sampai kujumpai sebuah lubang kecil di dekat disk-tray. Kucolok lubang itu dengan sebatang tusuk gigi. Mekanis pengait tersentuh, dan.. Aha, tuntas sudah masalah. Keping CD itu akhirnya bisa kukeluarkan.

 

Wah, Ternyata tusuk gigi bisa juga difungsikan lain ya? :)

 

Banyak ajaran semisal jendela kaca

Melaluinya kita melihat kebenaran

Tetapi kita dibatasinya pula

 

Kahlil Gibran

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:55:54 am ~ Ingin berkomentar?  



Friday, May 14, 2004
IZINKAN MEMUJA...

Entah untuk keberapa kalinya lagu-lagu milik KLa Project seperti ‘dejavu’, terjadi dan mirip dengan perjalanan cinta siapapun. Dan ternyata bukan cuma aku yang merasa.  Para penggemar, yang menyebut diri KLanis, juga merasakan hal yang sama dan menumpahkan curahan hati di situs KLa Project. Tentang kisah kasih mereka, terayun bimbang, terhempas ataupun menghempas, penantian cinta tanpa ujung, hingga keinginan untuk hanya memuja tanpa sekalipun ingin memiliki. Itulah lagu terbaru milik KLa yang impresif pada penampilan mereka di salah satu stasiun televisi Minggu malam lalu.

 

Memuja tanpa ingin memiliki? Ego-sentriskah? Tidak juga. Bukankah tidak ada larangan untuk memuja atau bahkan mencintai seseorang? Selama berbagai alasan untuk itu masih bisa diterima dengan akal sehat, mengapa tidak?

 

Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan dia..” kalimat serupa ini rasanya kali pertama kutemui dalam novel pop lama, lalu termodifikasi di banyak cerpen, puisi, dan bisa jadi sekarang ada di mana-mana. Kalimat yang kurasa begitu menyentuh dan ada benarnya, bahkan kutambahi dengan : “..sehingga Tuhan lupa membuat kembarannya”.. Hehehe..  bahkan kalimat ini juga pernah jadi perdebatan via SMS dengan temanku, yang merasa kekagumanku begitu berlebihan terhadap sosok seseorang. Terserah bila ada yang kontan protes dan merasa ada pelecehan theologis di sini :)

Padahal, hihihi.. temanku itu tentu akan jauh lebih tercengang melihat mousepad-ku, wallpaper dan screensaver komputerku, kalendar mejaku, atau poster mozaik lebar seluas langit-langit kamar; Atau beberapa lagu ciptaanku yang terinspirasi lantaran keindahan sejati pada dirinya yang terpahat begitu sempurna; Atau prosa ringkas bersahaja yang cuma menjadi ornamen di buku harian semata, tapi – jujur saja - kuciptakan dengan rasa kekaguman tak terhingga.. 

 

Beberapa hari yang lalu, ketika salah satu celotehanku di weblog ini sedikit berkisah tentang sosok Dian Sastro; kontan ada beberapa yang mencoba menggugahku dari ‘mimpi yang sempurna’ (Hei? Judul lagu Peter Pan ya?) dan mengajakku untuk lebih jelas melihat siapa dan bagaimana Diandra Paramitha Sastrowardoyo sebenarnya..

Duh, tenang saja karibku :)  Tenanglah, ketika suatu kali aku mengatakan aku tergila-gila, itu bukan berarti aku gila.. hahaha :D 

Sepasang suami isteri;  yang satu pedendang, yang satu pelakon. Mereka cukup tau tentang bagaimana aku menyimpan kekaguman pada sosok yang kadang mereka jumpai dalam komunitas mereka – masyarakat pesohor. Mereka tercengang mendengar kisahku. Bukan, bukan lantaran rasa kekagumanku; tapi justru ketidakinginanku untuk ‘sekalipun’ bertemu dengannya, sengaja ataupun tidak disengaja.  Inilah yang kumaksud dan kuinginkan dengan ‘tergila tanpa merasa gila’.

Ini bukan berarti aku mencoba menutup mata atas cela yang ada pada dirinya, berlaku seolah tidak ada kekurangan apapun ada dirinya. Tidak samasekali.

 

Samasekali aku tidak ingin pernah bertemu dengan dia.

Ketika ada sepotong lirik menyatakan ‘Cinta tak harus memiliki’, rasanya lagu milik KLa tadi juga mewakili : ‘Memuja, tanpa perlu memiliki...’

Aku hanya ingin memuja. Itu saja.   Menatap dari kejauhan, segala keindahan yang tersaji pada dirinya, menikmatinya seolah menatap pelangi yang terjadi di sisa hujan, merasakan salah satu keagungan karya surgawi… ya, itu saja.

 

Saat mengetik celotehku ini, dari speaker di kiri-kanan monitor komputerku terdengar lagu terbaru milik KLa. Tidak sengaja kurekam, saat menyaksikan mereka di Barbados Café.

“Izinkan kumemuja, tanpa perlu memiliki… tak ingin aku usik kebebasanmu…

Cukuplah senyuman jadi suluh yang memberi, kehangatan kalbu, menjalani hariku..”

Lirik lagu yang menyentuh.

Kunikmati lagu itu, sembari melakukan kebiasaanku : menggigit tusuk gigi.

 

thx to Perca, dan Kutubuku..

n da nu KLa! - Katon, Adi, Erwin, Yoel dan Hari..

n of course, Dian Sastrowardoyo! :)

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 9:06:21 am ~ Komentar (2) karib Tusuk Gigi  



Monday, May 10, 2004
SUKA IKLAN APA SIH?

Di suatu siang. Di tengah kepadatan lalu lintas Jakarta. Jarum speedometer tak pernah bergerak melebar.

“Eh, lo suka iklan apa sih?” tanya temanku yang sudah lima tahun ini bekerja di sebuah perusahaan periklanan.  Kami baru saja ‘reuni’ sembari makan siang, setelah hampir enam tahun tidak bertemu.

“Gue suka iklan yang ceritanya ada cewek digoda di sebuah lobby hotel, terus si cewek ngebela diri, loncat di atas kepala orang-orang, dan ujung-ujungnya si penggoda tadi terlempar keluar dari jendela.” jawabku sambil melirik dari kaca spion tengah.

“Ooo.. itu. Lalu apa lagi?” sambungnya.

“Iklan sabun kecantikan. Saking lembutnya tuh pengaruh sabun, tangan si cewek begitu licin dan jadi susah buat diajak dansa..” jawabku lagi.

“hmm.. terus?” sepertinya dia makin penasaran dengan iklan favoritku berikutnya.

“Iklan produk elektronik yang bikin kuis, dan pemenangnya bisa ikutan nonton Forrmula 1 di Shanghai.. ” sahutku tenang sambil mengulum senyum.

“Eh, ‘bentar.. Rasanya iklan-iklan yang elo sebut itu, dibintangi Dian Sastro semua khan?” Matanya tampak melotot ke arahku. Tangannya yang hendak mengulas lipstik berhenti sejenak.

“Heheheh.. iya. Gue cuma suka iklan yang ada Dian Sastro-nya” jawabku meringis menahan cubitan kecil yang tiba-tiba bersarang di pangkal lengan.  Kepalanya menggeleng. Ada yang tidak bisa hilang dari diriku, sejak kami bersama di bangku kuliah dulu : Aku, si pemuja keindahan :)

 

Entah kenapa, rasanya aku lebih bisa menikmati sebuah iklan hanya di media televisi; ketimbang media lain seperti radio yang cuma mengandalkan telinga, ataupun media cetak yang hanya mengandalkan mata.  Mungkin juga sebagian orang punya pendapat sama - penyatuan citra gerak dan suara yang tertangkap mata dan telinga, terasa lebih mengena.

 

Kata temanku tadi, untuk membuat iklan yang mudah diingat, tidak selamanya mudah. Hanya ada dua pilihan relatif; membuat iklan yang sangat bagus atau bahkan sangat jelek. Lalu, bla-bla-bla, bercelotehlah ia tentang iklan berdasar kitab-kitab akademis semasa kuliah dulu. Aku cuma manggut-manggut. Obrolan lumayan penambah wawasan sekaligus mengusir penat kemacetan.

Iklan bagus agar disuka? Atau iklan jelek agar dibenci? Kedua-duanya sadar atau tidak sadar, justru paling sering diingat masyarakat. Tapi ada yang tidak peduli; bagus atau tidak bagus, keduanya sama-sama dibenci bila muncul kerap kali. Lantaran dianggap mengganggu kenikmatan mengunyah tayangan. Aha! Temanku juga berpesan; jangan menonton iklan saat sedang makan. Bisa jadi iklan macam obat penyakit kulit yang lugas tergambar; akan membuat selera dan nafsu makan kita tidak lagi berkobar.

 

Jangan terlalu membenci iklanlah, katanya lagi. Ia bisa menolong kita untuk sejenak rehat menikmati tayangan, memberi kesempatan ke kamar kecil, mengambil cemilan, atau minum air demi kesehatan ginjal. Bukan hanya itu, kadang ada pula iklan yang secara tidak langsung menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, dan bahkan memancing kreatifitas kita!  Atau, jadikan saja sebagai salah satu peranti penghibur. Iklan-iklan yang dikemas kocak, lucu dan segar bisa jadi alasan untuk melaksanakan semboyan ‘tertawa itu sehat’.  Atau seperti aku? Menikmati sosok Dian Sastro yang jarang terpublikasi di layar televisi; dan hanya bisa tersaji di iklan dan film pilihannya.. hahaha :D

 

“Eh, weekend besok… mau pergi ke Bandung bareng aku?” tanya temanku ketika ia kembali kuantar ke depan lobby kantornya. Aku nyengir lantaran merasa tersindir, aksentuasi kalimat tadi mirip gaya bicara Dian Sastro yang berkostum ala pembalap di iklan Panasonic. Aku memberi kode dengan ibu jari dan kelingking mengacung membentuk ponsel, lalu dengan bahasa bibir : “I Call U L8er”.

 

Pedal gas kutekan, mencoba membelah kemacetan Jakarta. Hei, ternyata tidak semua produk perlu diiklankan ya? Lihat saja : peniti. Benda yang nyaris tak terpikirkan, tapi ternyata sangat penting - khususnya bagi kaum wanita. Tapi pernahkah kita melihat iklan peniti? Atau… aha! Tusuk gigi! Hihihi.. rasanya tidak perlu diiklankan, tapi kerap dicari orang seusai makan :) Nah, lalu apa lagi ya?


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:10:07 am ~ Komentar (3) karib Tusuk Gigi  



Thursday, May 06, 2004
KEBAHAGIAAN ULANG TAHUN..

Mereka-reka kenangan di masa kecil dulu, seolah membawa ingatan kita untuk memutar waktu dan kembali hadir di masa itu.  Masa kecil, masa kanak-kanak, penuh polah dan tingkah bocah lucu yang menggemaskan.  Bukan hanya itu, ada kalanya peristiwa atau kejadian kecil yang luput dari ingatan, justru muncul begitu saja dan bahkan memberi ‘sentuhan’ bagi kita. Entah itu tawa ceria atau tangis lara, dan semua itu seolah tanpa dinyana terjadi - begitu saja.

 

Salah satu peristiwa yang kerap diingat oleh seseorang di masa kecilnya, adalah hari ulang tahunnya.  Dulu, aku sempat berpikir betapa beruntungnya temanku. Maksudku beruntung, karena sejak kecil ia selalu punya kesempatan untuk merayakan ulang tahun dalam suasana pesta yang meriah. Warna-warni balon di penjuru ruang, semburat kertas-kertas berkilau, gerak badut yang lucu, musik riang, nyanyian, tumpukan kado yang menjulang, nyala lilin di atas kue tart dan sepasang orang tua yang berada di sisi kanan kirinya. Menurutku pada masa itu; inilah ‘kebahagiaan ulang tahun’ yang sesungguhnya.

 

Masa kecil kakakku, aku, dan kedua adikku pernah sejenak mengecap meriahnya kebahagiaan ulang tahun seperti yang kugambarkan di atas. Lalu ketika kondisi ekonomi keluargaku ambruk, bahkan benar-benar pada satu keadaan dimana kami tinggal di rumah yang sudah bukan menjadi hak kami lagi, kami masih bisa berbahagia memeriahkan hari ulang tahun kami.  Tentunya bukan dengan gempita kemewahan, bukan lagi dengan berbagai aksesoris sebuah pesta ulang tahun.

Kue tart kami ganti dengan nasi tumpeng ala kadarnya. Tidak ada musik, balon, badut; hanya tepuk tangan dari saudara-saudara terdekat dan tetangga yang masih ‘ada’ di sekeliling kami. Setia, dan peduli tanpa memandang materi. Lantas pada masa itu, aku merubah pendapatku yang dulu : justru inilah yang lebih tepat disebut dengan ‘kebahagiaan ulang tahun’ yang sesungguhnya.

 

Nonton film, traktir makan, pesta kebun, naik gunung, .. hingga bagi-bagi kebahagiaan di panti asuhan, panti jompo, atau masyarakat pinggiran, adalah berbagai cara mewujudkan kebahagiaan ulang tahun. Selalu ada cara, baik bagi kaum hedonis atau yang selalu membungkus diri dengan jubah idealis.

 

Ulang tahun. Bertambahkah usia kita? Atau justru berkurang satukah usia kita? Tidak perlu diperdebatkan kedua pendapat ini.  Sama benarnya. Mengurangi atau menambah, toh tetap saja disebut kegiatan : menghitung.  Yah, menghitung-hitung, adakah yang berkurang dan bertambah dari diri kita?  Bertambah banyakkah kebaikan dalam diri kita? Atau, berkurangkah keburukan-keburukan yang ada di dalam diri kita?

 

Aku teringat lagi di saat kecil. Bersama teman-teman sepantaran, bermain pasir di dekat toko bahan bangunan, tidak jauh dari rumah. Dari bekas tempat sabun colek, mencetak seolah kue tart ulang tahun. Di atasnya, ditusukkan beberapa batang tusuk gigi. Menatanya seperti batang-batang lilin. Lalu kami semua bernyanyi sambil bertepuk tangan :

“Selamat ulang tahun, kami ucapkan..

Selamat panjang umur, kita ‘kan doakan..

Semoga sejahtera, sehat sentosa,

Selamat panjang umur dan bahagia.. “

Wajah-wajah bocah, polos, senyum girang, mendendangkan nada-nada ceria, berkisah kebahagiaan ulang tahun, dalam dunia mereka.

 

Selamat Ulang Tahun.. bagi mereka, yang hari ini berulang tahun..

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 1:09:49 am ~ Ingin berkomentar?  



Saturday, May 01, 2004
MENJADI LEBIH BAIK

Sore tadi.  Entah kenapa, lantaran muak melihat (lagi-lagi) kekerasan polisi terhadap para mahasiswa, aku mengganti saluran dengan stasiun televisi lain. Oho, kisah para akademia di Akademi Fantasi Indosiar tersaji dalam Diary AFI. Setidaknya, ini jadi hiburan lumayan sembari mengunyah cemilan.

 

Ada sebuah adegan, dimana seorang akademia - Cindy, curhat dengan staf pengajarnya. Dialog tentang keseharian para akademia, yang sebenarnya biasa-biasa saja untuk disimak.

Hingga satu pernyataan dari Cindy : “Aku tidak terlalu obsesi untuk menjadi yang terbaik. Aku cuma ingin berupaya menjadi lebih baik.” katanya lugas.

“Maksud kamu; Ingin menjadi lebih baik dari teman-teman kamu?” tanya Tamam Husein, ‘kepala sekolah’ AFI.

“Bukan, saya ingin menjadi lebih baik dari diri saya; yang kemarin”. Jelas Cindy, mengembangkan senyumnya. Manis sekali.

Aku tertegun. Adegan tadi bahkan masih terbawa di pikiran saat aku makan malam.  Berupaya menjadi lebih baik ketimbang terobsesi untuk selalu menjadi yang terbaik.  Sepertinya ini merupakan cermin salah satu sikap positif yang patut untuk direnungi. Oleh siapapun, bahkan aku.

 

Ya, kerap kali kita selalu ingin melangkah lebar-lebar ketimbang mencapai tujuan terdekat.  Mungkin, sejak kecil kita terbiasa untuk bercita-cita yang muluk-muluk. Terbiasa dengan “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”.  Terbiasa dengan tujuan utama, sementara tujuan-tujuan kecil yang bisa jadi adalah jalan pintas atau sekedar lelikuan untuk menuju tujuan utama, terabaikan. 

Tidak, tidak ada yang salah dengan mereka yang memiliki tujuan : menjadi yang terbaik. 

Dan tidak salah pula bagi mereka yang punya tujuan singkat : menjadi lebih baik dari hari kemarin.

 

Rupanya tongseng kambing yang jadi menu makan malam tadi, menyisakan serat di geligi.  Aku ambil sebatang tusuk gigi. Ah, serat kayunya memecah dan nyaris patah. Kucoba mengambil yang lain sebagai gantinya. Tentu saja, yang kuanggap lebih baik dari tusuk gigi pertama tadi.  Sebab, konyol rasanya.. berkutat di antara kumpulan tusuk gigi hanya untuk mencari dan memilih : tusuk gigi yang terbaik.


dedicated to : Cindy Carolina S.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 11:53:31 pm ~ Ingin berkomentar?  



Previous Page

Next Page