Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< June 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, April 29, 2004
BEDA, NAMUN SAMA..

“Enak, dan terasa beda-nya ya?” ujar Ivan. Matanya tampak kagum memandang ‘benda kecil’ di jemarinya. Sepiring nasi goreng sudah sedari tadi tandas di hadapannya. 

“He’eh, bener. Rasanya lebih ‘on’ ketimbang yang biasa.” tukas Pongki.

Aku tersenyum mengaduk minuman yang tinggal seperempat. Sendok berdenting lumayan keras membentur dinding gelas.

“Wah, kayaknya asik tuh, boleh nyoba juga gak?” suara bariton menyela dari meja depan yang baru saja rampung melakukan meeting. Ya, usai syuting untuk sebuah acara musik di televisi, kelompok musik senior yang kini berjumlah 5 orang itu mampir ke sebuah kedai roti bakar Edi, salah satu sudut Jakarta.

 

Aha! Jangan biarkan pikiran tergiring dan salah menduga lantaran visualisasi kata.  Yang tadi kubicarakan bukan tentang ‘obat’, apalagi dedaunan laknat. Itu tadi tentang salah satu merk rokok, yang sejak sebulan lalu mengeluarkan produk ‘super premium’ mereka dengan kemasan elegan dan ‘cita rasa tembakau asli’.  Di kalangan perokok, merk ini sepertinya sudah dianggap sebagai standar rokok yang paling enak dan konon kabarnya bahkan bisa menyembuhkan batuk! Benar atau tidak, rasanya tidak ada satu dokterpun yang berani merekomendasikan pasiennya untuk merokok agar sembuh dari batuk :)

 

Aku teringat salah satu sepupuku yang gemar mencoba bermacam-macam merk rokok, tapi ogah untuk merk yang satu itu.  Menurutku alasannya sangat tidak logis, sebab katanya merk rokok itu justru banyak dikonsumsi oleh tukang becak. Waduh, sombong betul ya? Padahal kerapkali aku justru melihat banyak pedendang di negeri ini yang gemar dengan merk rokok tiga digit tersebut, dan mereka punya berbagai alasan : bikin range suara meluas, suara lebih nyaring, dan punya efek serak yang lebih macho (wow! :P). 

Lalu untuk seorang tukang becak? Tentu saja merk itu malah jadi gengsi tersendiri.  Untuk jumlah uang yang lebih sedikit, mereka bisa membeli merk lain yang rata-rata berjumlah 16 – 20 batang; namun untuk merk ini cuma berisi 12 batang!  Nikmatnya? Jangan tanya saat mereka menghisapnya sambil memejamkan mata. Percaya atau tidak, banyak yang menikmati rokok itu hingga ke pangkal dan cuma sanggup dipegang oleh ibu jari dan telunjuk.

 

Coba lihat dan cermati para perokok ketika mereka sedang melakukan ritual merokok. Berbeda dan bermacam. Ada yang cuma menyimpan asapnya di mulut lantas dihembuskan begitu saja. Ada yang menghisap dalam-dalam hingga tampak mengisi rongga dada dan mengeluarkan lewat hidung perlahan-lahan. Soal rasa si rokok sendiri, juga berbeda. Ada yang terasa pedas cengkehnya, ada yang gurih tembakaunya, ada yang wangi, ada yang mengklaim rendahnya kadar nikotin yang terkandung di tiap batang rokoknya.

 

Berbagai cara yang mereka lakukan, tetap saja kita menyebutnya : merokok. Berbagai cita rasa yang disajikan, tetap saja kita memberi nama sama : rokok. 

 

Dulu aku punya teman kost yang tiap kali ingin merokok, selalu mematahkan tungkai korek api, dan menyusupkannya separuh ke busa filter. Rupanya patahan korek api itu ia gigit agar mudah menahan beratnya batang rokok yang terselip di bibir.  Dia tampak nyaman dan menikmati gayanya itu. Iseng-iseng aku mencoba mengikuti, bukan dengan korek api tapi dengan tusuk gigi. Nyaman? Tidak sama sekali.

 

Beda rasa, tetap saja punya satu nama : rokok.  Anggap saja sama seperti tulisan yang tertera di pita burung Garuda : Bhinneka Tunggal Ika. Tapi, apa kita juga punya naluri dan kepedulian yang sama untuk menolong sesama di sekitar kita?

 

Lalu kucabut tusuk gigi dari rokok tadi.  Awan putih pun terhembus.. begitu nikmat, tak terperi..

 

Peringatan Pemerintah :

Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 12:15:02 pm ~ Komentar (1) karib Tusuk Gigi  



Wednesday, April 28, 2004
Satu Persatu...

“Gile ya! Sebel banget deh..” umpat sepupuku. Ia baru saja pulang kuliah. Lantaran kendaraannya harus masuk bengkel, maka terpaksalah hari ini ia menggunakan angkutan umum.
“Bukannya diduluin penumpang yang turun, eh ini malah berebut naik.. susah banget deh bangsa ini kalau disuruh antri..” sungutnya. Lalu ia bergegas menuju kulkas. Aku tersenyum. Ia tentu butuh air es. Suasana hatinya tentu kembar siam dengan cuaca di siang ini : panas.

 

Wah apa iya ya? Apa memang begitu sulitnya antri? Naik, turun, keluar, masuk, maju, mundur, ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan : satu persatu.. atau memang semua itu sudah jadi kebiasaan yang membudaya? Coba pandang sekitar keseharian kita. Biang kemacetan di kota besar, rasanya bukan hanya karena bertambahnya populasi kendaraan yang tidak sesuai dengan jalan; tapi lantaran perilaku yang sudah membudaya tadi.  Jangan heran kalau perilaku ‘tidak mau antri’ ini pun sudah memakan korban; dari pertunjukan musik hingga pembagian sandang-pangan bagi warga kekurangan.

 

Sebenarnya, tiap orang juga ingin antri kok.. tapi masalahnya seringkali kita merasa ‘benar’ dengan berpikir : kalau di sekeliling kita tidak mau antri, kenapa kita sendiri harus antri? Mungkin ini yang membuat banyak orang seringkali malas untuk antri dengan baik. Bayangkan saja, maksud hati berlaku baik dengan bersabar menunggu giliran, tiba-iba ada orang lain yang seenaknya mengambil tempat di depan kita. Perkara apakah si penyerobot berucap santun ataupun tidak, itu lain masalah. Paling tidak, kita sudah dibuat jengkel karenanya. 

 

Mengapa perilaku antri cukup sulit membudaya, bisa jadi lantaran ada dikotomi kelompok ‘biar lambat asal selamat’ dan ‘siapa cepat dia dapat’ yang tidak sengaja tercipta. Kelompok yang satu merasa tidak perlu terburu-buru, sementara kelompok yang satu lagi tidak ingin membuang banyak waktu. Ya, bisa jadi. Contohnya? Lihat saja perilaku pengemudi di jalan tol selama ini. Yang berkendaranya perlahan-lahan malah berada di sisi kanan jalan, yang gesit berlari justru mengambil sisi badan jalan paling kiri.

 

Ah, kalau bisa sekaligus, sekali jalan; mengapa harus antri satu- persatu? Ya, memang. Lebih mangkus dan sangkil : efektif dan efisien. Tapi apa memang selamanya harus begitu? Secepat kilat tokoh cowboy jagoan seperti Lucky Luke menembak – bahkan ‘kabarnya’ lebih cepat dari bayangannya sendiri, tetap saja satu persatu peluru yang mampu diimuntahkan pistolnya. Bahkan selebar apapun ruang mulut kita membuka, adakah yang mampu memasukkan tiga buah onde-onde dan mengunyahnya sekaligus?

Dan ketika kita usai makan, sebanyak apapun jemari kita mampu menjumput jumlah tusuk gigi dari tempatnya, biasanya kita hanya menggunakan satu persatu bukan?  Atau ada yang pernah mencoba menggunakannya bersamaan? Hehehe… :)


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 8:14:59 pm ~ Ingin berkomentar?  



Tuesday, April 27, 2004
ANAK KOST...

Kendati rumah kost tidak melulu hanya untuk para mahasiswa, - artinya bisa juga untuk karyawan, umumnya istilah anak kost memang lebih tepat ditujukan bagi para mahasiswa/i.  Disebut anak kost, karena biasanya mahasiswa masih berkesan ‘anak’. Apalagi mahasiwa/i yang baru saja menjalani orientasi studi dan pengenalan kampus, sebagian masih tampak canggung dan polos. Dan bukankah usia mahasiswa biasanya juga sering disebut usia muda? Usia belia, usia tanggung, remaja yang tengah berangkat menuju usia pra-dewasa... (hei, apa memang ada klasifikasi usia seperti ini? Hehehhe..)

 

Mahasiswa yang tinggal di tempat kost, umumnya perantau. Kalau toh, misalnya mereka punya sanak saudara di kota tempat mereka kuliah; biasanya mereka akan lebih memilih kost ketimbang ‘ikut saudara’. Alasan lazimnya adalah : bisa lebih bebas. Jangan salah diartikan dulu. Bebas dalam arti; kalau ada acara atau kegiatan di kampus yang membuat kita terpaksa pulang malam, kita tidak merasa sungkan dengan si pemilik kost.  Hal ini akan berbeda tentunya apabila sang pemilik kost dan si anak kost ada hubungan kekerabatan. Makanya, kadang ada pula iklan rumah kost yang menawarkan fitur : pintu sendiri. Artinya, kita pulang kapanpun, ya silahkan buka dan kunci sendiri. Tidak ada yang merasa terganggu atau diganggu.

 

Tinggal di rumah kost, ada untungnya. Kita jadi kenal banyak orang. Tau karakter dan pribadi mereka. Belajar bersosialisasi. Bertukar ilmu, dan juga gaya hidup keseharian. Ada yang tadinya sama sekali tidak bisa berbahasa daerah, tiba-tiba saja lumayan lancar dan jadi makhluk aneh ketika ia ‘mudik’ ke kampung halamannya. Ada yang tadinya tidak bisa main gitar, tiba-tiba tertarik karena ingin sejago teman kostnya. Ada yang justru belajar memasak dari sesama teman kost, ketimbang selalu berkutat pada menu utama mahasiswa : mi instant.  Tapi keuntungan yang paling sering dialami adalah : teman-teman kost bisa menjadi keluarga terdekat, di kala kita tertimpa musibah. Ya macam-macam musibahlah.. apalagi kalau ‘musibah’ di tanggal tua :P

 

Ruginya? Ada juga. Dari yang sok baik hati kalau ingin berhutang - tapi jadi tokoh antagonis dan susah dicari saat ditagih -, hingga yang pelitnya setengah mati meminjamkan barangnya. 

Roy, aku pinjam majalah kamu yang kemarin dibeli ya?” kataku – saat main ke kamarnya.

“Mmmm.. ya udah, tapi baca di sini aja ya.” jawabnya.  Hah? Pelit amat sih! Batinku.

Besok paginya, saat aku siap-siap mau ke kampus. Si Roy mengetuk pintu kamar.

“Diii, pinjam penyedot debu kamu dong.. “ rajuknya.

“Boleh, tapi pakai di sini aja ya..” sahutku sambil tersenyum. Kontan bengonglah ia. Hehehe.. garing ya? Lelucon plagiat ya? Biarin.. Tapi efektif kok :)

 

Semasa dulu aku kuliah di Jogja, sudah 4 kali pindah kost. Bukan tidak betah, tapi hanya ingin ganti suasana. Pernah satu kost dengan teman-teman dari daerah Jawa, tapi malah tidak terkontaminasi ilmu bahasa Jawa; lha wong keseharian mereka justru berbahasa nasional! Pernah satu kost dengan komunitas borju; yang saking tidak acuhnya satu sama lain, hingga sekarang aku tidak pernah ingat atau bahkan tau siapa-siapa penghuni 6 kamar di lantai atas. Pernah satu kost dengan mahasiswa-mahasiwa psikologi dan aku senantiasa jadi subjek penelitian mereka. Pernah pula satu kost dengan mahasiswi-mahasiswi. Eh, jangan salah sangka dan mengira aku bahagia, lha aku cuma kebagian menempati kamar belakang dan itupun terpisah tembok dari bangunan utama! :)

Tapi ada enaknya juga tinggal ‘nyaris’ dekat dengan para mahasiswi tadi. Mereka biasa memasak sendiri, dan mereka juga termasuk penganut paham ‘langsing is beautiful’, alhasil aku juga kebagian jatah hasil masakan mereka.  Makin hari kami jadi akrab satu sama lain.

 

Pagi itu aku mengetuk pintu dapur mereka yang bersisian dengan teras kamarku; ingin mengembalikan mug besar yang kupinjam dua hari yang lalu; dan tentu saja berharap : sarapan gratis! :)

Tiba-tiba pintu terbuka, seraut wajah manis menyambut. Ya ampun! Ada penghuni baru rupanya!

“Ya, ada apa mas?” tanyanya lembut dibarengi senyum yang membuatku terhanyut.

Duh, aku terpana begitu hebatnya... dan yang lugas keluar dari bibirku malah :

“Mmm... b-bb-boleh minta tusuk gigi nggak?”


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 9:43:14 am ~ Ingin berkomentar?  



Monday, April 26, 2004
Jangan lagi ada...

Hari ini.

Harian Kompas berkisah di terasnya. Duh, kota Ambon rusuh kembali.

Sungguh, sisa setengah gado-gado sarapan di pagi hari jadi tidak nikmat lagi.

 

Apa memang selalu begini?

Katanya damai cuma ada di dalam mimpi…

(padahal ‘buruk’ juga salah satu sifat mimpi bukan?)

 

Kompas yang kuhempas di meja, ndilalah malah menghantam kotak tusuk gigi..

Isinya? Jelas berhamburan, terserak ke meja, lantai, kesana kemari.

 

Sembari menata kembali, lirih aku bernyanyi :

“Sudahlah jangan lagi ada, darah yang tertumpah..

Kekerasan bukanlah jawaban atas perbedaan..

 

(dari lirik Surga Menangis, Katon Bagaskara)


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:53:10 am ~ Komentar (1) karib Tusuk Gigi  



Sunday, April 25, 2004
Laki-laki kok memasak??

Yoserizal menepuk pundak anaknya, “Heh, monyet, katanya mau masak? jadi nggak?” Rangga mengangguk. Cinta yang terpana, spontan berujar : “Hah? Masak?” Sepertinya ia tidak percaya kalau Rangga - bisa - memasak.

 

Itu tadi dialog salah satu adegan film ‘Ada Apa Dengan Cinta’. Film remaja lokal yang membuat hampir seluruh bioskop di tanah air kebanjiran penonton pada awal tahun 2002 lalu. Wajar saja si Cinta tidak percaya. Bukan lantaran cewek manis ini segala-galanya  biasa dikerjakan oleh pembantu; atau cuma sesekali ke dapur. Dalam pandangan dia, rasanya memang aneh ada cowok ‘memasak’. Satu hal yang tidak mungkin dtemukan dalam wawasan ‘gaul’nya.

 

Sebentar, apakah kegiatan memasak cuma boleh dimonopoli kaum feminis?  Ada yang salahkah ketika seorang pria memasak? Apakah kata kerja ‘memasak’ hanya diklasifikasikan untuk gender tertentu? Rasanya tidak ada kultur yang melarang, menentang, membuat aturan implisit maupun eksplisit bahwa pria dilarang : memasak.

 

Harian Kompas pagi tadi, membahas tentang para pria yang memasak. Seperti pengamat politik, Andi Malarangeng hingga penabuh drum : Gilang Ramadhan. Latar belakang mengapa mereka tertarik dengan dunia memasak cukup beragam. Namun apapun alasannya, sepertinya mereka benar-benar ‘enjoy’ dengan aktifitas di dapur dan juga ‘hasil’ masakannya.  Di restoran-restoran besar, atau hotel berbintang misalnya, dari kepala juru masak hingga yang benar-benar bergelut dengan panas dan asap kebanyakan justru didominasi kaum pria. 

 

Jadi menurutku, sah-sah saja cowok masuk dapur. Tidak, tidak ada hubungannya perilaku kebiasaan memasak dengan perilaku kewanita-wanitaan kok :) Asalkan ditekuni ‘serius’, pasti akan menghasilkan karya masakan yang sangat-sangat ‘delicious’ (duh, rima kata yang memaksa ya? :P)

 

Baru saja aku beli nasi goreng tradisional yang lewat di depan rumah. Penjualnya? Jelas laki-laki. Masakannya? Lumayanlah… tapi kalau rasa lapar yang sedang meraja, jangan coba-cobalah mendiskusikan soal rasa.  Hhhh, sepertinya ruang perutku sesak sudah. Oh iya, usai makan nasi goreng, apa perlu juga pakai tusuk gigi ya?


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:41:37 pm ~ Ingin berkomentar?  



Previous Page

Next Page