Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< May 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, May 01, 2004
MENJADI LEBIH BAIK

Sore tadi.  Entah kenapa, lantaran muak melihat (lagi-lagi) kekerasan polisi terhadap para mahasiswa, aku mengganti saluran dengan stasiun televisi lain. Oho, kisah para akademia di Akademi Fantasi Indosiar tersaji dalam Diary AFI. Setidaknya, ini jadi hiburan lumayan sembari mengunyah cemilan.

 

Ada sebuah adegan, dimana seorang akademia - Cindy, curhat dengan staf pengajarnya. Dialog tentang keseharian para akademia, yang sebenarnya biasa-biasa saja untuk disimak.

Hingga satu pernyataan dari Cindy : “Aku tidak terlalu obsesi untuk menjadi yang terbaik. Aku cuma ingin berupaya menjadi lebih baik.” katanya lugas.

“Maksud kamu; Ingin menjadi lebih baik dari teman-teman kamu?” tanya Tamam Husein, ‘kepala sekolah’ AFI.

“Bukan, saya ingin menjadi lebih baik dari diri saya; yang kemarin”. Jelas Cindy, mengembangkan senyumnya. Manis sekali.

Aku tertegun. Adegan tadi bahkan masih terbawa di pikiran saat aku makan malam.  Berupaya menjadi lebih baik ketimbang terobsesi untuk selalu menjadi yang terbaik.  Sepertinya ini merupakan cermin salah satu sikap positif yang patut untuk direnungi. Oleh siapapun, bahkan aku.

 

Ya, kerap kali kita selalu ingin melangkah lebar-lebar ketimbang mencapai tujuan terdekat.  Mungkin, sejak kecil kita terbiasa untuk bercita-cita yang muluk-muluk. Terbiasa dengan “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”.  Terbiasa dengan tujuan utama, sementara tujuan-tujuan kecil yang bisa jadi adalah jalan pintas atau sekedar lelikuan untuk menuju tujuan utama, terabaikan. 

Tidak, tidak ada yang salah dengan mereka yang memiliki tujuan : menjadi yang terbaik. 

Dan tidak salah pula bagi mereka yang punya tujuan singkat : menjadi lebih baik dari hari kemarin.

 

Rupanya tongseng kambing yang jadi menu makan malam tadi, menyisakan serat di geligi.  Aku ambil sebatang tusuk gigi. Ah, serat kayunya memecah dan nyaris patah. Kucoba mengambil yang lain sebagai gantinya. Tentu saja, yang kuanggap lebih baik dari tusuk gigi pertama tadi.  Sebab, konyol rasanya.. berkutat di antara kumpulan tusuk gigi hanya untuk mencari dan memilih : tusuk gigi yang terbaik.


dedicated to : Cindy Carolina S.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 11:53:31 pm ~ Ingin berkomentar?  



Friday, April 30, 2004
SMS KEONG..

“Lowongan pekerjaan : Dicari penyayang binatang dan penyabar. Fee 100 USD untuk menggiring keong dari Jakarta ke Bogor.  Demikian Layanan Pesan Singkat – Indonesianisasi dari SMS :) -  yang tertera di layar ponselku semalam. 

Aku tau SMS itu pasti forwarding dan bukan ditulis langsung oleh si pengirim. Entah siapa penulis pertama, yang jelas – kalau boleh jujur - menurutku SMS tadi agak kurang lucu untuk membuat orang yang membacanya terpingkal atau terbahak-bahak.  Tapi untuk sekedar membuat meringis atau nyengir, bolehah. Cukup berhasil, setidaknya :)

 

Namun seandainya SMS tadi dianggap serius, belum tentu orang akan tergiur dengan lowongan seperti itu.  Apa pasal? Bukan lantaran pekerjaan menggiring keong yang bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan sampai republik ini steril dari bakteri korupsi;  tapi satu hal : kesabaran.  Sesuatu yang rasanya semakin sulit untuk sepenuhnya kita miliki.

 

Cobalah mengingat, acapkali mata air kesabaran kita seringkali tersedot oleh : antrian panjang di dermaga penyeberangan, lambatnya akses internet di negeri ini, mobil di depan kita yang berjalan lambat padahal sebentar lagi lampu persimpangan akan segera berganti merah, penyelesaian klaim asuransi yang tidak segegas saat kali pertama menawarkan jasanya, yah pokoknya lumayan banyaklah...

 

Seandainya kesabaran tertuang dalam bejana; ternyata kita lebih sering menumpahkan dan perlahan menghabiskannya, ketimbang berupaya untuk menambah isi bejananya. Banyak orang bisa menjumawakan kepandaiannya, kekayaannya, kesempurnaan penampilannya, tapi : kesabarannya?

 

Pagi tadi aku sarapan bersama adikku. Di geliginya terlihat rangkaian kawat penata. Pertanda usai, sendok di piringnya telah bertumpu menyilang. Tangannya menggapai sekotak tusuk gigi, menjumputnya sebatang, lalu menggunakannya dengan penuh : kesabaran. Tidak segegas ketika ia menyantap telur mata sapi setengah matang di awal sarapan, dan tidak juga segegas nanti, ketika ia berdiri, menyambar tas dan setengah berlari ke luar rumah.

Aku mengambil sebatang tusuk gigi, menggunakannya perlahan, juga dengan penuh kesabaran. Tapi bukan lantaran kawat penata, itu aku tidak punya. Gusiku mudah peka. Itu saja.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:48:12 am ~ Ingin berkomentar?  



Thursday, April 29, 2004
BEDA, NAMUN SAMA..

“Enak, dan terasa beda-nya ya?” ujar Ivan. Matanya tampak kagum memandang ‘benda kecil’ di jemarinya. Sepiring nasi goreng sudah sedari tadi tandas di hadapannya. 

“He’eh, bener. Rasanya lebih ‘on’ ketimbang yang biasa.” tukas Pongki.

Aku tersenyum mengaduk minuman yang tinggal seperempat. Sendok berdenting lumayan keras membentur dinding gelas.

“Wah, kayaknya asik tuh, boleh nyoba juga gak?” suara bariton menyela dari meja depan yang baru saja rampung melakukan meeting. Ya, usai syuting untuk sebuah acara musik di televisi, kelompok musik senior yang kini berjumlah 5 orang itu mampir ke sebuah kedai roti bakar Edi, salah satu sudut Jakarta.

 

Aha! Jangan biarkan pikiran tergiring dan salah menduga lantaran visualisasi kata.  Yang tadi kubicarakan bukan tentang ‘obat’, apalagi dedaunan laknat. Itu tadi tentang salah satu merk rokok, yang sejak sebulan lalu mengeluarkan produk ‘super premium’ mereka dengan kemasan elegan dan ‘cita rasa tembakau asli’.  Di kalangan perokok, merk ini sepertinya sudah dianggap sebagai standar rokok yang paling enak dan konon kabarnya bahkan bisa menyembuhkan batuk! Benar atau tidak, rasanya tidak ada satu dokterpun yang berani merekomendasikan pasiennya untuk merokok agar sembuh dari batuk :)

 

Aku teringat salah satu sepupuku yang gemar mencoba bermacam-macam merk rokok, tapi ogah untuk merk yang satu itu.  Menurutku alasannya sangat tidak logis, sebab katanya merk rokok itu justru banyak dikonsumsi oleh tukang becak. Waduh, sombong betul ya? Padahal kerapkali aku justru melihat banyak pedendang di negeri ini yang gemar dengan merk rokok tiga digit tersebut, dan mereka punya berbagai alasan : bikin range suara meluas, suara lebih nyaring, dan punya efek serak yang lebih macho (wow! :P). 

Lalu untuk seorang tukang becak? Tentu saja merk itu malah jadi gengsi tersendiri.  Untuk jumlah uang yang lebih sedikit, mereka bisa membeli merk lain yang rata-rata berjumlah 16 – 20 batang; namun untuk merk ini cuma berisi 12 batang!  Nikmatnya? Jangan tanya saat mereka menghisapnya sambil memejamkan mata. Percaya atau tidak, banyak yang menikmati rokok itu hingga ke pangkal dan cuma sanggup dipegang oleh ibu jari dan telunjuk.

 

Coba lihat dan cermati para perokok ketika mereka sedang melakukan ritual merokok. Berbeda dan bermacam. Ada yang cuma menyimpan asapnya di mulut lantas dihembuskan begitu saja. Ada yang menghisap dalam-dalam hingga tampak mengisi rongga dada dan mengeluarkan lewat hidung perlahan-lahan. Soal rasa si rokok sendiri, juga berbeda. Ada yang terasa pedas cengkehnya, ada yang gurih tembakaunya, ada yang wangi, ada yang mengklaim rendahnya kadar nikotin yang terkandung di tiap batang rokoknya.

 

Berbagai cara yang mereka lakukan, tetap saja kita menyebutnya : merokok. Berbagai cita rasa yang disajikan, tetap saja kita memberi nama sama : rokok. 

 

Dulu aku punya teman kost yang tiap kali ingin merokok, selalu mematahkan tungkai korek api, dan menyusupkannya separuh ke busa filter. Rupanya patahan korek api itu ia gigit agar mudah menahan beratnya batang rokok yang terselip di bibir.  Dia tampak nyaman dan menikmati gayanya itu. Iseng-iseng aku mencoba mengikuti, bukan dengan korek api tapi dengan tusuk gigi. Nyaman? Tidak sama sekali.

 

Beda rasa, tetap saja punya satu nama : rokok.  Anggap saja sama seperti tulisan yang tertera di pita burung Garuda : Bhinneka Tunggal Ika. Tapi, apa kita juga punya naluri dan kepedulian yang sama untuk menolong sesama di sekitar kita?

 

Lalu kucabut tusuk gigi dari rokok tadi.  Awan putih pun terhembus.. begitu nikmat, tak terperi..

 

Peringatan Pemerintah :

Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 12:15:02 pm ~ Komentar (1) karib Tusuk Gigi  



Wednesday, April 28, 2004
Satu Persatu...

“Gile ya! Sebel banget deh..” umpat sepupuku. Ia baru saja pulang kuliah. Lantaran kendaraannya harus masuk bengkel, maka terpaksalah hari ini ia menggunakan angkutan umum.
“Bukannya diduluin penumpang yang turun, eh ini malah berebut naik.. susah banget deh bangsa ini kalau disuruh antri..” sungutnya. Lalu ia bergegas menuju kulkas. Aku tersenyum. Ia tentu butuh air es. Suasana hatinya tentu kembar siam dengan cuaca di siang ini : panas.

 

Wah apa iya ya? Apa memang begitu sulitnya antri? Naik, turun, keluar, masuk, maju, mundur, ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan : satu persatu.. atau memang semua itu sudah jadi kebiasaan yang membudaya? Coba pandang sekitar keseharian kita. Biang kemacetan di kota besar, rasanya bukan hanya karena bertambahnya populasi kendaraan yang tidak sesuai dengan jalan; tapi lantaran perilaku yang sudah membudaya tadi.  Jangan heran kalau perilaku ‘tidak mau antri’ ini pun sudah memakan korban; dari pertunjukan musik hingga pembagian sandang-pangan bagi warga kekurangan.

 

Sebenarnya, tiap orang juga ingin antri kok.. tapi masalahnya seringkali kita merasa ‘benar’ dengan berpikir : kalau di sekeliling kita tidak mau antri, kenapa kita sendiri harus antri? Mungkin ini yang membuat banyak orang seringkali malas untuk antri dengan baik. Bayangkan saja, maksud hati berlaku baik dengan bersabar menunggu giliran, tiba-iba ada orang lain yang seenaknya mengambil tempat di depan kita. Perkara apakah si penyerobot berucap santun ataupun tidak, itu lain masalah. Paling tidak, kita sudah dibuat jengkel karenanya. 

 

Mengapa perilaku antri cukup sulit membudaya, bisa jadi lantaran ada dikotomi kelompok ‘biar lambat asal selamat’ dan ‘siapa cepat dia dapat’ yang tidak sengaja tercipta. Kelompok yang satu merasa tidak perlu terburu-buru, sementara kelompok yang satu lagi tidak ingin membuang banyak waktu. Ya, bisa jadi. Contohnya? Lihat saja perilaku pengemudi di jalan tol selama ini. Yang berkendaranya perlahan-lahan malah berada di sisi kanan jalan, yang gesit berlari justru mengambil sisi badan jalan paling kiri.

 

Ah, kalau bisa sekaligus, sekali jalan; mengapa harus antri satu- persatu? Ya, memang. Lebih mangkus dan sangkil : efektif dan efisien. Tapi apa memang selamanya harus begitu? Secepat kilat tokoh cowboy jagoan seperti Lucky Luke menembak – bahkan ‘kabarnya’ lebih cepat dari bayangannya sendiri, tetap saja satu persatu peluru yang mampu diimuntahkan pistolnya. Bahkan selebar apapun ruang mulut kita membuka, adakah yang mampu memasukkan tiga buah onde-onde dan mengunyahnya sekaligus?

Dan ketika kita usai makan, sebanyak apapun jemari kita mampu menjumput jumlah tusuk gigi dari tempatnya, biasanya kita hanya menggunakan satu persatu bukan?  Atau ada yang pernah mencoba menggunakannya bersamaan? Hehehe… :)


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 8:14:59 pm ~ Ingin berkomentar?  



Tuesday, April 27, 2004
ANAK KOST...

Kendati rumah kost tidak melulu hanya untuk para mahasiswa, - artinya bisa juga untuk karyawan, umumnya istilah anak kost memang lebih tepat ditujukan bagi para mahasiswa/i.  Disebut anak kost, karena biasanya mahasiswa masih berkesan ‘anak’. Apalagi mahasiwa/i yang baru saja menjalani orientasi studi dan pengenalan kampus, sebagian masih tampak canggung dan polos. Dan bukankah usia mahasiswa biasanya juga sering disebut usia muda? Usia belia, usia tanggung, remaja yang tengah berangkat menuju usia pra-dewasa... (hei, apa memang ada klasifikasi usia seperti ini? Hehehhe..)

 

Mahasiswa yang tinggal di tempat kost, umumnya perantau. Kalau toh, misalnya mereka punya sanak saudara di kota tempat mereka kuliah; biasanya mereka akan lebih memilih kost ketimbang ‘ikut saudara’. Alasan lazimnya adalah : bisa lebih bebas. Jangan salah diartikan dulu. Bebas dalam arti; kalau ada acara atau kegiatan di kampus yang membuat kita terpaksa pulang malam, kita tidak merasa sungkan dengan si pemilik kost.  Hal ini akan berbeda tentunya apabila sang pemilik kost dan si anak kost ada hubungan kekerabatan. Makanya, kadang ada pula iklan rumah kost yang menawarkan fitur : pintu sendiri. Artinya, kita pulang kapanpun, ya silahkan buka dan kunci sendiri. Tidak ada yang merasa terganggu atau diganggu.

 

Tinggal di rumah kost, ada untungnya. Kita jadi kenal banyak orang. Tau karakter dan pribadi mereka. Belajar bersosialisasi. Bertukar ilmu, dan juga gaya hidup keseharian. Ada yang tadinya sama sekali tidak bisa berbahasa daerah, tiba-tiba saja lumayan lancar dan jadi makhluk aneh ketika ia ‘mudik’ ke kampung halamannya. Ada yang tadinya tidak bisa main gitar, tiba-tiba tertarik karena ingin sejago teman kostnya. Ada yang justru belajar memasak dari sesama teman kost, ketimbang selalu berkutat pada menu utama mahasiswa : mi instant.  Tapi keuntungan yang paling sering dialami adalah : teman-teman kost bisa menjadi keluarga terdekat, di kala kita tertimpa musibah. Ya macam-macam musibahlah.. apalagi kalau ‘musibah’ di tanggal tua :P

 

Ruginya? Ada juga. Dari yang sok baik hati kalau ingin berhutang - tapi jadi tokoh antagonis dan susah dicari saat ditagih -, hingga yang pelitnya setengah mati meminjamkan barangnya. 

Roy, aku pinjam majalah kamu yang kemarin dibeli ya?” kataku – saat main ke kamarnya.

“Mmmm.. ya udah, tapi baca di sini aja ya.” jawabnya.  Hah? Pelit amat sih! Batinku.

Besok paginya, saat aku siap-siap mau ke kampus. Si Roy mengetuk pintu kamar.

“Diii, pinjam penyedot debu kamu dong.. “ rajuknya.

“Boleh, tapi pakai di sini aja ya..” sahutku sambil tersenyum. Kontan bengonglah ia. Hehehe.. garing ya? Lelucon plagiat ya? Biarin.. Tapi efektif kok :)

 

Semasa dulu aku kuliah di Jogja, sudah 4 kali pindah kost. Bukan tidak betah, tapi hanya ingin ganti suasana. Pernah satu kost dengan teman-teman dari daerah Jawa, tapi malah tidak terkontaminasi ilmu bahasa Jawa; lha wong keseharian mereka justru berbahasa nasional! Pernah satu kost dengan komunitas borju; yang saking tidak acuhnya satu sama lain, hingga sekarang aku tidak pernah ingat atau bahkan tau siapa-siapa penghuni 6 kamar di lantai atas. Pernah satu kost dengan mahasiswa-mahasiwa psikologi dan aku senantiasa jadi subjek penelitian mereka. Pernah pula satu kost dengan mahasiswi-mahasiswi. Eh, jangan salah sangka dan mengira aku bahagia, lha aku cuma kebagian menempati kamar belakang dan itupun terpisah tembok dari bangunan utama! :)

Tapi ada enaknya juga tinggal ‘nyaris’ dekat dengan para mahasiswi tadi. Mereka biasa memasak sendiri, dan mereka juga termasuk penganut paham ‘langsing is beautiful’, alhasil aku juga kebagian jatah hasil masakan mereka.  Makin hari kami jadi akrab satu sama lain.

 

Pagi itu aku mengetuk pintu dapur mereka yang bersisian dengan teras kamarku; ingin mengembalikan mug besar yang kupinjam dua hari yang lalu; dan tentu saja berharap : sarapan gratis! :)

Tiba-tiba pintu terbuka, seraut wajah manis menyambut. Ya ampun! Ada penghuni baru rupanya!

“Ya, ada apa mas?” tanyanya lembut dibarengi senyum yang membuatku terhanyut.

Duh, aku terpana begitu hebatnya... dan yang lugas keluar dari bibirku malah :

“Mmm... b-bb-boleh minta tusuk gigi nggak?”


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 9:43:14 am ~ Ingin berkomentar?  



Next Page