TEMAN BAIK « Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< June 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, June 14, 2004
TEMAN BAIK

Entah kenapa, di tag-board weblogku, nama panggilanku jadi Tugi..  Bisa jadi, agar lebih mudah dan singkat diucapkan, ketimbang Tusuk Gigi ya? Hehehe..:)

Tugi. Hei, sekilas terucap, terdengar seperti Nugie. Penyanyi cowok bersuara khas, beraliran musik keras. Ingat Nugie, ingat salah satu lagunya yang berjudul “Teman Baik”, dan lantas terbayang di benak, tentang kata TEMAN BAIK.

 

Beberapa tahun lalu, ketika aku menjadi mahasiswa baru dan diwajibkan untuk mengikuti Opspek.  Betapa amburadulnya atribut-atribut yang harus kami pakai, betapa kacaunya penampilan kami ketika harus mengenakan atribut tersebut sejak dari rumah/kost hingga menuju kampus.  Kadang ada atribut tambahan yang mendadak diberitahu sehari sebelum hari opspek berikutnya.  Bisa di­bayangkan betapa gundahnya kami yang be­lum sepenuhnya mengenal kota Yogya, ketika harus menelusuri pelosok-pelosok kota, hanya untuk men­cari benda-benda spesifik dengan alasan atribut opspek.

Pada saat-saat seperti itu; siapa sih yang tidak butuh seorang teman untuk membantu?  Lalu yang nama­nya kebersamaan dan kekompakan seketika tercipta, nggak ada lagi in­dividuali­tas. Semua butuh solidaritas. Semua ingin dikerjakan bersama-sama.  Cari ba­rang sama-sama.  Rasanya semua ingin saling membantu, tanpa sadar menyimpan pam­rih yang ter­sirat.  Pamrih yang tersirat? Ya, bisa jadi.  Situasi gundah seperti masa-masa itu menciptakan keinginan untuk saling membantu dengan tujuan : ya, ingin di­bantu juga.

 

Hmm.. terasa tidak ada yang berbeda setelah itu?  Tumbuh­nya ke­kompakan pada masa-masa opspek ternyata nggak ber­tahan lama.  Bia­sanya, begitu dua semester terlewati, secara nggak sadar mulai tercipta insan-in­san individualistis dan ko­munitas eksklusif.

Teman bukan lagi te­man, tapi jadi lawan saingan.  Indeks prestasi dan perhatian dosen jadi rebutan, jadi bahan aduan, jadi ajang unjuk dada dan pengakuan kemenangan. Kita tidak lagi saling menengadahkan tangan, mengulurkan bantuan; tapi justru saling sikut, saling jegal, saling menggulir demi mempertahankan atau bahkan merebut pun­cak tertinggi. Hasrat unjuk gigi demi legitimasi diri sebagai yang ber­prestasi, sering jadi obsesi tanpa henti.  Lalu dari kondisi seperti itu, malah tercipta satu perilaku sosial yaitu : berteman hanya ketika membutuhkan.  Begitu kebutuhan itu terimpaskan, usai pula jalinan pertemanan. Akhirnya, teman masa opspek, dan kekompakan yang ada, cuma jadi kenangan tersendiri.

Tidak bisa dipungkiri, manusia memang punya hasrat lahiriah untuk selalu membutuhkan orang lain.  Kendati hal ini merupakan dasar bagi ter­bentuknya suatu hubungan, namun sebaiknya bukan berarti hanya berhenti sampai di sana.  Justru hal ini merupa­kan pijakan awal sebelum mengayun langkah-langkah berikut­nya.

Kita perlu bela­jar untuk memahami kebutuhan orang lain, mengenal pribadinya, menerima ke­beradaannya, serta banyak hal lagi.  Saling memberi, saling menerima, saling mengerti, saling menghargai, saling menghormati, saling memiliki adalah sebagian dari sekian banyak hal lain yang mendukung terwujud­nya suatu hubungan yang langgeng dan tidak lekang oleh masa. Kalau saja kita berhenti pada dasar hubungan seperti yang disebutkan di atas, dalam arti ber­teman hanya ketika kita membutuhkannya, lantas menyudahinya ketika ke­butuhan itu telah terpenuhi dan terimpaskan; rasanya kita tidak akan pernah bisa me­nemukan seorang teman baik, dan kita sendiripun juga tidak akan pernah bisa untuk menjadi seorang teman baik.  

 

“Teman baikku berkata : ‘gunakan aku’..

Tak perlu kau risau membayar

Pamrih yang tersirat..

Itulah potongan lirik lagu milik Nugie yang menggugah benakku untuk berceloteh pada saat ini, dan juga sejenak merenungi :

Sudahkah aku menjadi seorang teman baik bagi orang lain?”

 

 

Dedicated to :

Seorang teman baik, yang 14 Juni ini berulang tahun..

“Happy birthday bro! all the best!”


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:22:08 am ~

RaRa
June 15, 2004   08:26 AM PDT
 
masa-masa SMU memang masa-masa yang benar-benar di mana kita merasa kompak, nyaman dan bebas dengan teman-teman yang masih "polos" tanpa mengambil keuntungan satu sama lain. Kalo dah di kampus pada umumnya teman yang kita kira adalah sehati dengan kita ternyata hanya memanfaatkan sesuatu yang kita punya. Persahabatan yang tulus emang mahal :(
Tusuk Gigi
June 18, 2004   02:59 AM PDT
 
thx u/ komentarnya... :)
Kutu
June 18, 2004   01:20 PM PDT
 
Hehe... inspired me again. Sudah beberapa hari terpikir menulis sesuatu, tapi setelah baca yang satu ini, setidaknya aku jadi tau mau mulai cerita dari mana. :) Kupikir, inilah kenapa yang namanya "Kisah Kasih di Sekolah", "Cintaku di Kampus Biru" sampai dibuat sinetronnya. Gak ada yg berjudul "Kisah Kasih di Kantor"...
Imponk
June 23, 2004   06:37 PM PDT
 
Di foto, bawa gitar itu Nugie kan? :D
 



Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry

Next Entry