PASANGAN JIWA... « Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< June 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, June 09, 2004
PASANGAN JIWA...

Di masa kuliah dulu, aku pernah memiliki komunitas sharing dengan beberapa teman. Kami termasuk akrab dan kerap berbagi rasa peduli. Seperti saat itu; di ruang kostku, di sore yang cerah benderang, ditemani petikan ritmis acoustic alchemy dari tape-ku, perbincangan kami mengulas tentang : Pasangan Jiwa.  Istilah lain yang tampak puitis, sekedar penukar kata jodoh ataupun teman hidup.

 

Dewi dan Eban, saat itu mereka belum menemukan ‘pasangan jiwa’nya.  Kris, sedang ‘pedekate’ dengan seorang adik tingkatnya.  Lalu Dani, baru saja ‘melepas kisah’ dengan pacarnya. Aku? kebetulan saat itu tengah menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi jurusan pariwara.  Masing-masing mengungkapkan tentang kegalauan, kecemasan dan kekuatiran diri, pada satu pertanyaan pribadi : “mungkinkah suatu hari nanti, saya punya pasangan?”.

 

Aku menatap mereka. Satu demi satu. Dewi, mahasiswi komunikasi, berkacamata, rambut kriwil semanis Rachel Maryam, jago main piano. Eban, mahasiwa hubungan internasional, bertubuh besar mirip Ruben Studdard, humoris, penyabar dan punya senyum indah yang menyejukkan tiap orang. Kris, mahasiswa komunikasi, pemuda Batak namun lembut, selalu paling mudah untuk membuat lawan pandang dan lawan bicara terkesima. Dani, mahasiswa sosiologi, berpostur tinggi, anggota paduan suara mahasiswa dan bersuara merdu bak Josh Groban.  Aku? Tidak sehebat mereka. Aku cuma mahasiswa filsafat, berpostur kurus, gondrong, dan lebih sering ke perpustakaan fakultas lain ketimbang fakultas sendiri.  Wow, ingin menambah wawasan sebagai alasan? Tidak juga. Bisa jadi ini lantaran ‘pemandangan’ di fakultas lain yang tampak lebih cerah, bagi aku, si pemuja keindahan.. :) 

 

Lalu apa yang membuat mereka merasa gundah dan ragu untuk mendapat pasangan?  Maka bercelotehlah aku tentang banyak hal.  Jatuh bangun dalam kehidupan percintaan. Diterima, ditolak, terhempas, menghempas, jatuh hati lantaran iba, menjadi orang ketiga, terperdaya, merapuh, dan beragam kisah lain. Aku pernah ‘jalan’ dengan bunga-nya kampus, pernah bersaing secara sehat dengan tiga orang teman untuk mendekati seseorang yang sudah punya pacar! Tapi aku juga pernah ditolak oleh seseorang, yang membuat kalian tercengang dan menyangsikan atribut ‘pemuja keindahan’ yang melekat pada diriku.  Bahkan bila dibandingkan dengan ‘bunga kampus’ tadi, nilainya tidak lebih dari setengah yang dimiliki.  Jadi, sebenarnya keindahan tidak selalu memikat hati atau bahkan menjadi obsesi. Semacam ‘inner beauty’ atau kharisma tersembunyi. Tidak saja bagi kita, namun juga bagi orang lain.

Begitu pula, dalam labirin jalan hidup percintaan seseorang; ada jalur yang – sepertinya – telah ditentukan, bahwa suatu kali akan ada ‘pasangan jiwa’ yang kita temukan. Temukan? Ya, tidak semata diberikan. Itulah makanya dibutuhkan kepekaan, selain waktu dan kesempatan.

Gagal dalam mengenal dan memahami pribadi sang pasangan, adalah semacam proses pendewasaan dan ujian menghadapi rintangan. Itu alami dan menempa kita untuk selalu mencari jawaban terbaik dalam menentukan pilihan.

 

Jadi, mengapa mesti takut, gundah dan ragu untuk mendapatkan pasangan? Cobalah membuka diri dalam pergaulan, karena hal ini tidak saja menambah wawasan, namun juga mencipta kesempatan. Berpekalah mengasah rasa, siapa tahu di antara mereka terselip pasangan jiwa yang telah ditentukan.

 

Perbincangan terhenti sesaat, lantaran melihat Eban tergoda dua kantong plastik yang dibawa Dewi. Begitu dituang di piring, ternyata rujak. Serpihan besar bermacam buah-buahan tampak memicu selera.

“Wah, kayaknya bisa dicolek nih.. ada garpu kecil gak mas?” tanya Eban.

“Hehehe.. kost cowok mana ada barang kayak gitu, Ban..” jelasku sedikit terkekeh.

Tiba-tiba Kris menyela, “Udah, pakai tangan aja! praktis khan?” tangannya menjulur ke arah piring.

“Eh jangan Kris! jorok ih..! Nih, pakai ini aja.. bisa khan?” tanya Dewi. Tangannya menggapai sesuatu, di dekat rak piringku : sekotak tusuk gigi. 

 

Jika pernah terluka lantaran cinta

jangan gurat lukanya dengan kata ‘jera’

pandang sekitar, kembangkan layar

tebarkan jala luas menghampar

Ayo, menangguklah!

~ tusuk gigi ~

 

- bagi para lajang yang kerap terayun bimbang

- komunitas ‘pandangsaujana’.. aku kangen kalian!

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:21:54 pm ~

RaRa
June 10, 2004   07:04 AM PDT
 
Pasangan jiwa... kapan yah bisa tetap? :p
sa
June 12, 2004   05:42 PM PDT
 
baca tulisan ini, inspiring aku utk bikin sebuah tulisan. makasih ya, gi. nanti ta link kan... (itu jg klo ada waktu nulis hihi...) met wiken.
kutu
June 12, 2004   08:27 PM PDT
 
Waduh, filsafat juga... tapi jogja atau depok nih? Lha kok sama.. pripun?... *mikir2* Hehehehe.. Pantes, kok de javu..
Tusuk Gigi
June 13, 2004   01:06 AM PDT
 
*Tetap apanya Ra? heheheh...

*Thx u, Sa.. apresiasi kamu bikin aku semangat untuk nulis, nulis dan nulis terus.. :)

*Ya ampun, Kutu! kamu juga filsafat ya? aku Jogja.. kamu UI ya? ketemu Dian Sastro gak?
kutu
June 25, 2004   10:50 AM PDT
 
ketemu sih ketemu... makanya aku sampai perhatikan hidungnya :)

Sempat ikut kelas.. apa tuh, filsafat bahasa? Tapi itu sudah setahun yang lalu. Salah seorang sahabatku yang kuliah di fils UI. Aku sih, di sini-sini aja. Hehe.
 



Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry

Next Entry