PENGENDARA SEPEDA MOTOR... « Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< May 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, May 28, 2004
PENGENDARA SEPEDA MOTOR...

Sejak jaman kuliah di Jogja, aku lumayan terbiasa mengendarai sepeda motor.  Bahkan jarak ke kota-kota di sekitarnya juga kutempuh dengan kendaraan beroda dua ini.  Bisa jadi semua itu membuatku cukup lincah bersisian dengan kendaraan-kendaraan besar di jalan luar kota, atau sekedar menyibak kemacetan jalan-jalan kecil di dalam kota.

 

Seminggu yang lalu, untuk kali pertama aku mengendarai sepeda motor di Jakarta, dengan jarak yang cukup lumayan; membentuk garis dari titik utara dan titik selatan Jakarta. Apalagi hari itu aku janji dengan seorang rekan di sebuah dealer mobil, tidak jauh dari CiToS. Jujur, selama ini aku hanya tau menjelajah jalan-jalan besar dan tol ibukota. Itupun dengan mobil, bukan dengan sepeda motor.  Alhasil, aku mencoba memindai gambaran peta tujuan dan lantas memindahkannya ke benak; berupaya andalkan daya ingat dan tak lupa nasihat lama : “segan bertanya sesat di jalan”.

 

Siang itu, aku mencoba mencapai tujuanku dengan sepeda motor. Wah! ternyata asyik juga berkendara sepeda motor di ibukota! Menyelinap di sela mobil-mobil, meraungkan gas, memijat klakson, menarik tuas kopling, melirik kaca spion, menggoyangkan kemudi..  seperti beragam aktifitas lain yang kerap dilakukan pengendara sepeda motor, dan sesekali memperhatikan tingkah laku para pengendara sepeda motor dari balik kaca helm.

 

Tapi, tiba-tiba saja aku menemukan gambaran lain dari semua ini. Yah, ada beberapa perilaku para pengendara sepeda motor yang sepertinya merupakan gambaran kita dalam melakoni hidup.

Pertama, coba perhatikan. Suatu kali seorang pengendara sepeda motor akan menjadi pemimpin saat menyusup kemacetan. Geraknya pun akan diikuti oleh pengendara lain di belakangnya. Si pemimpin akan berupaya membuka jalan bagi para pengikut di belakangnya. Namun tidak semua pengendara tadi patuh pada langkah si ‘pemimpin’, bisa jadi mereka akan mengambil ‘jalur’ lain. Mereka merasa lebih tahu dari si pemimpin dan mencoba melangkah sendiri.  Seperti halnya dalam hidup, ada kalanya kita jadi pemimpin, adakalanya jadi pengikut. Itu bergantian, dan selalu.

Kedua, ada pengendara yang tampak bergegas, nekat menyelinap di sela mobil-mobil dan tidak mengira ia bakal terjepit di sana; lantas menggores bodi mobil atau bahkan menyenggol spion-nya. Ini sama halnya dengan hidup orang yang gegabah dan tidak punya perhitungan matang. Atau sebaliknya, pengendara yang tampak ragu dan takut untuk menyelinap di sela mobil; adalah gambaran orang yang tidak pernah berani dan ragu mengambil keputusan dalam hidupnya.

Ketiga, ada pengendara yang asyik berjalan santai dan tak sadar menghadang jalan, sementara antrian kian memanjang di belakang. Bisa jadi itu adalah gambaran orang yang tidak peduli dengan sekitar, hanya punya target ‘yang penting tiba di tujuan’, dan juga tidak pernah peduli seberapa cepat semestinya ia mampu melakukan suatu pekerjaan.

Keempat, pengendara yang selalu mau berada di baris terdepan, di lampu merah persimpangan atau bahkan palang perlintasan rel kereta api. Mereka adalah gambaran hidup orang yang selalu mau menjadi yang ‘pertama’ dan tidak pernah peduli dengan ‘bahaya’ yang datang kapanpun.

Kelima..  Aduuuh… ban sepeda motorku bocor!!  Pantas saja gerak ban belakang sedikit tidak mampu kukendalikan. Untunglah, tidak terlalu jauh dan terlalu lama aku menuntun sepeda motor. Tepat di sebelah halte bus, ada tukang tambal ban.  Sambil menunggu ban sepeda motorku yang ditambal, aku duduk di kursi kayu kecil yang disediakan, dan mengamati keriuhan kendaraan yang berlalu-lalang.

 

Lho, kok aku jadi sedikit lupa ya gambaran peta tujuan?

Kudekati si tukang tambal ban, seraya berjongkok, mencoba mengajaknya berbincang.

“Lurus aja terus, mas… nanti gak jauh di depan Citos, ada putaran. Balik arah di sana.. dealer mobilnya berseberangan persis di depan Citos.” jelasnya. 

Lantas tangannya mengguratkan gambar arah tujuanku di atas tanah yang sedikit basah. Bukannya aku menyimak gambar ‘peta instan’ buatannya, namun malah tertarik pada ‘alat’ yang digunakan untuk menggambar. 

Sepertinya... Hei! itu khan tusuk gigi?

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 1:33:10 am ~

 



Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry

Next Entry