IZINKAN MEMUJA... « Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< May 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, May 14, 2004
IZINKAN MEMUJA...

Entah untuk keberapa kalinya lagu-lagu milik KLa Project seperti ‘dejavu’, terjadi dan mirip dengan perjalanan cinta siapapun. Dan ternyata bukan cuma aku yang merasa.  Para penggemar, yang menyebut diri KLanis, juga merasakan hal yang sama dan menumpahkan curahan hati di situs KLa Project. Tentang kisah kasih mereka, terayun bimbang, terhempas ataupun menghempas, penantian cinta tanpa ujung, hingga keinginan untuk hanya memuja tanpa sekalipun ingin memiliki. Itulah lagu terbaru milik KLa yang impresif pada penampilan mereka di salah satu stasiun televisi Minggu malam lalu.

 

Memuja tanpa ingin memiliki? Ego-sentriskah? Tidak juga. Bukankah tidak ada larangan untuk memuja atau bahkan mencintai seseorang? Selama berbagai alasan untuk itu masih bisa diterima dengan akal sehat, mengapa tidak?

 

Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan dia..” kalimat serupa ini rasanya kali pertama kutemui dalam novel pop lama, lalu termodifikasi di banyak cerpen, puisi, dan bisa jadi sekarang ada di mana-mana. Kalimat yang kurasa begitu menyentuh dan ada benarnya, bahkan kutambahi dengan : “..sehingga Tuhan lupa membuat kembarannya”.. Hehehe..  bahkan kalimat ini juga pernah jadi perdebatan via SMS dengan temanku, yang merasa kekagumanku begitu berlebihan terhadap sosok seseorang. Terserah bila ada yang kontan protes dan merasa ada pelecehan theologis di sini :)

Padahal, hihihi.. temanku itu tentu akan jauh lebih tercengang melihat mousepad-ku, wallpaper dan screensaver komputerku, kalendar mejaku, atau poster mozaik lebar seluas langit-langit kamar; Atau beberapa lagu ciptaanku yang terinspirasi lantaran keindahan sejati pada dirinya yang terpahat begitu sempurna; Atau prosa ringkas bersahaja yang cuma menjadi ornamen di buku harian semata, tapi – jujur saja - kuciptakan dengan rasa kekaguman tak terhingga.. 

 

Beberapa hari yang lalu, ketika salah satu celotehanku di weblog ini sedikit berkisah tentang sosok Dian Sastro; kontan ada beberapa yang mencoba menggugahku dari ‘mimpi yang sempurna’ (Hei? Judul lagu Peter Pan ya?) dan mengajakku untuk lebih jelas melihat siapa dan bagaimana Diandra Paramitha Sastrowardoyo sebenarnya..

Duh, tenang saja karibku :)  Tenanglah, ketika suatu kali aku mengatakan aku tergila-gila, itu bukan berarti aku gila.. hahaha :D 

Sepasang suami isteri;  yang satu pedendang, yang satu pelakon. Mereka cukup tau tentang bagaimana aku menyimpan kekaguman pada sosok yang kadang mereka jumpai dalam komunitas mereka – masyarakat pesohor. Mereka tercengang mendengar kisahku. Bukan, bukan lantaran rasa kekagumanku; tapi justru ketidakinginanku untuk ‘sekalipun’ bertemu dengannya, sengaja ataupun tidak disengaja.  Inilah yang kumaksud dan kuinginkan dengan ‘tergila tanpa merasa gila’.

Ini bukan berarti aku mencoba menutup mata atas cela yang ada pada dirinya, berlaku seolah tidak ada kekurangan apapun ada dirinya. Tidak samasekali.

 

Samasekali aku tidak ingin pernah bertemu dengan dia.

Ketika ada sepotong lirik menyatakan ‘Cinta tak harus memiliki’, rasanya lagu milik KLa tadi juga mewakili : ‘Memuja, tanpa perlu memiliki...’

Aku hanya ingin memuja. Itu saja.   Menatap dari kejauhan, segala keindahan yang tersaji pada dirinya, menikmatinya seolah menatap pelangi yang terjadi di sisa hujan, merasakan salah satu keagungan karya surgawi… ya, itu saja.

 

Saat mengetik celotehku ini, dari speaker di kiri-kanan monitor komputerku terdengar lagu terbaru milik KLa. Tidak sengaja kurekam, saat menyaksikan mereka di Barbados Café.

“Izinkan kumemuja, tanpa perlu memiliki… tak ingin aku usik kebebasanmu…

Cukuplah senyuman jadi suluh yang memberi, kehangatan kalbu, menjalani hariku..”

Lirik lagu yang menyentuh.

Kunikmati lagu itu, sembari melakukan kebiasaanku : menggigit tusuk gigi.

 

thx to Perca, dan Kutubuku..

n da nu KLa! - Katon, Adi, Erwin, Yoel dan Hari..

n of course, Dian Sastrowardoyo! :)

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 9:06:21 am ~

kutubuku
May 15, 2004   04:11 AM PDT
 
Cinta tak harus memiliki, memuja tanpa harus memiliki... kayaknya di kepalaku ada hubungannya dengan kata2 "dilarang memegang" yang biasa ditulis di pameran. Hehe, "dilarang memegang". Sekali lagi, aku ingat pada gadis berbaju biru di iklan sabun. Baru tau nih KLa bikin lagu baru. Untuk KLa: senyuman=suluh. Untuk Tusuk Gigi, tusuk gigi=suluh? :)
RaRa
May 15, 2004   03:15 PM PDT
 
Hehehehe.... :) izinkanku memuja ya? :p emang sih... emm.. umm...
 



Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry

Next Entry