SMS KEONG.. « Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< April 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 30, 2004
SMS KEONG..

“Lowongan pekerjaan : Dicari penyayang binatang dan penyabar. Fee 100 USD untuk menggiring keong dari Jakarta ke Bogor.  Demikian Layanan Pesan Singkat – Indonesianisasi dari SMS :) -  yang tertera di layar ponselku semalam. 

Aku tau SMS itu pasti forwarding dan bukan ditulis langsung oleh si pengirim. Entah siapa penulis pertama, yang jelas – kalau boleh jujur - menurutku SMS tadi agak kurang lucu untuk membuat orang yang membacanya terpingkal atau terbahak-bahak.  Tapi untuk sekedar membuat meringis atau nyengir, bolehah. Cukup berhasil, setidaknya :)

 

Namun seandainya SMS tadi dianggap serius, belum tentu orang akan tergiur dengan lowongan seperti itu.  Apa pasal? Bukan lantaran pekerjaan menggiring keong yang bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan sampai republik ini steril dari bakteri korupsi;  tapi satu hal : kesabaran.  Sesuatu yang rasanya semakin sulit untuk sepenuhnya kita miliki.

 

Cobalah mengingat, acapkali mata air kesabaran kita seringkali tersedot oleh : antrian panjang di dermaga penyeberangan, lambatnya akses internet di negeri ini, mobil di depan kita yang berjalan lambat padahal sebentar lagi lampu persimpangan akan segera berganti merah, penyelesaian klaim asuransi yang tidak segegas saat kali pertama menawarkan jasanya, yah pokoknya lumayan banyaklah...

 

Seandainya kesabaran tertuang dalam bejana; ternyata kita lebih sering menumpahkan dan perlahan menghabiskannya, ketimbang berupaya untuk menambah isi bejananya. Banyak orang bisa menjumawakan kepandaiannya, kekayaannya, kesempurnaan penampilannya, tapi : kesabarannya?

 

Pagi tadi aku sarapan bersama adikku. Di geliginya terlihat rangkaian kawat penata. Pertanda usai, sendok di piringnya telah bertumpu menyilang. Tangannya menggapai sekotak tusuk gigi, menjumputnya sebatang, lalu menggunakannya dengan penuh : kesabaran. Tidak segegas ketika ia menyantap telur mata sapi setengah matang di awal sarapan, dan tidak juga segegas nanti, ketika ia berdiri, menyambar tas dan setengah berlari ke luar rumah.

Aku mengambil sebatang tusuk gigi, menggunakannya perlahan, juga dengan penuh kesabaran. Tapi bukan lantaran kawat penata, itu aku tidak punya. Gusiku mudah peka. Itu saja.


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:48:12 am ~

 



Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry

Next Entry