GUDANG.. « Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< September 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, September 16, 2010
GUDANG..

Entah berapa kali dalam setahun aku memasuki kamar ini.  Yang jelas, saat sekian tahun lalu rumah ini direnovasi, tak pernah terpikir untuk menjadikan kamar ini sebagai sebuah gudang. Ya, gudang. Tempat dimana biasanya orang menyimpan berbagai barang yang sudah dianggap usang.

Mataku memandang ke penjuru ruang. Di sembarang sudut tertumpuk berbagai kardus barang elektronik rapih tertata. Lalu kipas angin tua, perangkat sistem suara dengan teknologi masa lalu, kayu-kayu dipan, meja belajar, mesin jahit kesayangan nenek dan barang-barang yang – menurutku - sudah tak terpakai lagi. Kendati kamar ini tak terlalu berdebu, namun seolah mereka tampak kusam tertimbun pula oleh tumpukan debu waktu.

Aku menghampiri sebuah kardus yang tersudut menyendiri, tak jauh dari lemari kayu berwarna kecoklatan. Lemari kecil yang pernah menghiasi kamar tidurku sekian belas tahun lalu. Bibirku mengerucut meniup selotip yang mengunci kardus itu. Debu halus mengepul, membiaskan jaring laba-laba yang entah sudah berapa lama menjadi tirai jendela di sudut kanan. Suara robekan selotip kontan mengoyak keheningan ruangan.

......

"Kita sudah berkali-kali latihan dan hasilnya seperti ini?!" suaraku menegang, jemari mengepal kencang. Aku menjatuhkan gitar di rerumputan. Berdebum, satu nada memekik sumbang. Beberapa pasang mata meredup. Seseorang dari mereka merengkuh bahu, mencoba redakan amarahku.

Aku memandangi foto yang tampak menguning. Foto saat aku dan beberapa teman vocal group tengah tersenyum usai menerima sebuah piala kemenangan. Ah, andai mereka mengerti bahwa sikapku yang mudah marah saat melatih, adalah untuk menyadarkan mereka akan makna kedisiplinan demi sebuah kesempurnaan yang sesungguhnya mampu diraih..

 

Jemariku membuka lembar-lembar sebuah buku bergambar simbol hati berwarna merah jambu. Lembar-lembar berhiaskan tulisan tangan yang tersusun rapi dengan tinta biru. Sehelai bulu ayam dengan selotip kecoklatan terjatuh. Aku memungutnya, mencoba mencari di lembar yang mana tadi ia direkatkan. Beberapa baris tulisan di sana membuatku sesaat termangu.

"Diary sayang, aku nggak akan pernah melupakan ini. Nggak tau kenapa, gara-gara bulu ayam ini, kami berdua sempat dikira pacaran lho! ..hahaha! Pantas aja, si Komang tampaknya malah menjauh dari dia. Gagal deh, aku menjodohkan mereka.. Duh, gimana yaa??"

Tanganku mengibaskan lembar-lembar yang penuh dengan tulisan dan gambar itu hingga ke satu lembar dimana setangkai bunga kering yang tampak merapuh menjadi penghias di tengahnya.

"Diaryku, aku akan tetap menyimpan bunga ini. Bunga yang suatu kali akan layu dan mati, tapi ia tetap tersimpan di buku ini. Seperti rasa yang aku simpan ini. Mungkin pula akan layu dan mati, tapi ia tetap tersimpan di hati.."

Satu bercak yang tampak melunturkan tinta biru kontan menyudutkanku akan kenangan saat itu. Saat buku ini kuterima di malam perpisahan; malam dimana setelahnya tak pernah lagi tercipta pertemuan. Batinku berbisik lirih. Sesungguhnya saat itu aku pun menginginkannya, lebih dari sekedar sahabat biasa..

.....

 

Beragam gambar menyeruak di benak, singgah sejenak lalu perlahan pergi beranjak.  Entah sudah berapa lama aku berada di dalam kamar yang – akhirnya - menjadi gudang, memandang barang-barang usang yang membuatku terkenang.

Aku terhenyak. Usang dan hanya dikenang.

Sekali lagi. Usang dan hanya dikenang.

Tiba-tiba aku teringat blogku yang sudah sekian lama tak pernah lagi kuisi, kendati masih ada yang menghampiri dan pula menanti. Saat kukembali membaca tulisan-tulisan yang ada, memang selalu ada sesuatu dalam batin yang bertandang dan kukenang. Pedih, suka, isak dan gelak memadu dalam rasa yang sulit untuk kulugaskan dalam rangkuman kata. Tapi apakah akan selalu begitu? Hanya mengenang yang pernah ada, mengenang beragam kisah di dalamnya, mengenang, mengenang dan terus mengenang, hingga membiarkan semua tulisan di sana pada akhirnya hanya menjadi barang usang?

 

Aku tak ingin membiarkan blog ini sebagai sebuah gudang.

Batinku meradang. Blogku, bukan gudang.

Tak akan usang dan tak hanya dikenang.

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 3:01:25 am ~

Vita Ra
September 16, 2010   09:50 AM PDT
 
hanya : terima kasih, telah kembali... :)
celoteh Tugi selalu dinanti...
ayudya
September 16, 2010   10:38 AM PDT
 
Senang sekali Tugi telah berceloteh lagi..
Ku selalu menanti karya-karyamu selanjutnya mengisi blogmu kembali...
Name
September 16, 2010   05:09 PM PDT
 
Semula tusukgigi seperti pelangi yang muncul sekali-sekali tapi selalu dinanti, warna-warni kata indah menghias angkasa. Kini sepertinya pelangi itu bisa muncul setiap hari.
aiz
September 28, 2010   01:41 AM PDT
 
welcome back mas..
tak akan usang dan tak hanya di kenang :)
Shella
September 28, 2010   05:02 PM PDT
 
Senang.. :) Akhirnya Goresan rasa tlah kembali tercurah di tugi..
deby
January 9, 2011   05:31 PM PST
 
..terimakasih,om..TuGi jadi inspirasi :)
enno
March 12, 2011   01:50 PM PST
 
naaah bener tu mas... jgn hanya bisa dikenang dan mjd usang :)

tapi kok skrg ditinggal lagi blognya?
hiks...
emma
October 4, 2011   06:52 PM PDT
 
hedehhh jd inget dimarai dulu di syantikara ya....tapinya klo mas yuris marah ngga terlalu kentara kok, marah yg masih berseni seperti setiap goresan kalimatnya hehheee....

wish u all the best mas Yuris, GBU

nb: udh dmn itu piala kita ya....hiks
 



Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry

Next Entry